Tampilkan postingan dengan label Program Anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Program Anak. Tampilkan semua postingan

Pesta Telur Asin di Rumah KAIL

Oleh: Any Sulistyowati

Telur Bebek Asin
Hari Minggu, 12 Juni 2016 sore hari, Rumah KAIL dipenuhi enam belas orang anak-anak. Sebagian besar dari mereka datang dari Kampung Cigarugak, Kampung tempat Rumah KAIL berada. Mereka datang untuk mengikuti kegiatan Hari Belajar Anak (HBA). Kegiatan HBA diselenggarakan secara rutin setiap bulan sekali di Rumah KAIL. Di setiap kegiatan HBA anak-anak belajar berbagai hal yang menarik dan berguna untuk hidup mereka.

Kegiatan HBA kali ini adalah pesta telur asin. Telur asin ini mereka buat sendiri di acara HBA bulan Mei yang lalu. Setelah tiga minggu disimpan, jadilah telur asin itu. Berhubung waktunya bertepatan dengan bulan Ramadhan, maka pesta telur asin dilaksanakan sekaligus acara buka puasa bersama.

Dalam kegiatan ini, anak-anak memasak sendiri telur asinnya. Mereka bisa memilih telur asin goreng atau telur asin rebus. Anak-anak yang masih kecil dibantu oleh Kakak-Kakak relawan KAIL. Mereka memasak secara bergantian dengan tertib.

Menggoreng Telur Asin
Telur asin paling sedap disantap dengan nasi. Untuk buka puasa bersama ini, anak-anak dapat memilih satu atau lebih pilihan nasi, yaitu nasi putih biasa, nasi kacang hijau, nasi merah dan nasi jagung. Selain itu juga ada tumis sayuran buatan Kak Fine, relawan KAIL. Hmmm… sedap! Buka puasa bersama tentu lebih lengkap dengan es buah. Dalam kegiatan ini, anak-anak menyiapkan bersama es buah mereka. Ada yang memotong pepaya, melon dan semangka. Ada yang mengerok buah kelapa. Ditambah es. Jadilah es buah yang segar dan sehat.

Menyiapkan Es Buah
Agar seluruh proses pembuatan es buah dan memasak telur asin berjalan dengan lancar dan tertib, anak-anak dibagi menjadi empat kelompok. Setiap kelompok duduk di sekeliling sebuah meja dan mendapatkan tugas khusus, misalnya memotong papaya, memotong melon, mengerok kelapa dsb. Oh, ya… sebelum acara masak-memasak anak-anak sempat bermain board game raksasa bersama di halaman depan Rumah KAIL. Seru sekali permainannya. Dalam permainan ini mereka dibagi menjadi dua kelompok. Setiap kelompok menentukan perwakilan yang menjadi pion, yaitu mereka yang ditunjuk untuk melompat di kotak-kotak board game. Selain bermain board game, mereka juga mendengarkan cerita Kak Debby tentang kisah kota Bandung dari masa ke masa.

Bermain Board Game Raksasa
HBA ini tidak dapat terlaksana tanpa dukungan kakak-kakak staff dan relawan KAIL. Terima kasih untuk Kak Fine dan Kak Kukuh yang bersedia menjadi relawan HBA kali ini. Juga Kak Debby dan Kak Deta yang setia menemani anak-anak di setiap acara HBA. Juga Ibu Melly, koordinator Rumah KAIL yang menyempatkan diri hadir di HBA kali ini.

Buka Puasa Bersama
Semoga semakin lama acara HBA semakin digemari anak-anak dan membawa manfaat bagi kehidupan mereka.

Membuat Jurnal Kegiatan


Oleh: Deta R. Kristanti

Hari Belajar Anak KAIL (HBA) yang pertama di tahun 2016 dilaksanakan pada hari Minggu, 31 Januari 2016. Kegiatan ini diikuti oleh 9 orang anak yang tinggal di sekitar Rumah KAIL. Pada kegiatan HBA kali ini, anak-anak diajak membuat Jurnal Penyemangat HBA KAIL. Tujuannya supaya anak-anak memiliki rekam jejak masing-masing setiap mereka mengikuti kegiatan HBA. Kegiatan HBA kali ini dipandu oleh Kak Deta, Kak Debby dan Kak Widya.



Tepat jam 10 pagi, Kak Debby mengajak anak-anak berkumpul di halaman depan Rumah KAIL. Kegiatan dibuka dengan bermain “Jempol Ajaib”. Anak-anak diminta untuk menempelkan jempol mereka pada benda-benda yang disebutkan oleh Kak Debby. Seru sekali. Anak-anak berlari-lari berusaha mencari benda yang dimaksud Kak Debby.

Setelah selesai bermain, anak-anak berkumpul membuat lingkaran dan berbincang bersama Kak Deta dan Kak Debby, tentang kegiatan-kegiatan HBA yang pernah mereka ikuti di tahun 2015. Beberapa masih mereka ingat dengan jelas, seperti kegiatan mempelajari jamur, membuat cap daun, membuat teropong serta membuat belalang dari daun kelapa. Anak-anak juga ingat pernah mendengar dongeng tentang Jack dan pohon kacang buncis yang sangat tinggi.


Hari itu anak-anak juga mendengar sebuah dongeng. Dongeng berjudul “Mengapa Binatang Mempunyai Ekor?” itu dibawakan oleh Kak Deta. Setelah mendengarkan dongeng, barulah anak-anak diajak untuk membuat jurnal. Kakak-kakak fasilitator telah menyiapkan sejumlah kertas, karton, spidol, gunting dan lem kertas untuk bahan membuat jurnal.

Mula-mula anak-anak dipersilahkan memilih kertas warna yang mereka inginkan untuk menjadi sampul jurnal mereka. Kertas warna tersebut kemudian ditempelkan pada sebuah kertas karton supaya sampul jurnal menjadi lebih keras dan kuat. Anak-anak juga dipersilahkan mengambil kertas-kertas polos, kertas bertuliskan “Jurnal Penyemangat”, “Hari Belajar Anak KAIL”, dan "logo KAIL ”. Anak-anak lalu menyusun kertas-kertas polos tersebut untuk menjadi halaman isi jurnal. Ternyata ada juga lho yang kesulitan menyusunnya. Namun, anak-anak pantang menyerah dan mau belajar. Beberapa anak juga belum berani berkreasi di luar contoh, namun sebagian berusaha membuat sampul jurnalnya menjadi menarik dan berbeda dari teman lainnya. Sekitar empat puluh menit kemudian, buku-buku Jurnal Penyemangat Hari Belajar Anak KAIL siap digunakan.

Seharusnya acara ditutup dengan kegiatan nonton film bersama. Namun karena kendala teknis, kegiatan nonton bersama ditunda dulu. Semoga anak-anak tetap senang dan bersemangat untuk bergabung lagi di HBA bulan Februari! 

Petualangan Menuju Kerajaan Jamur Tiram

Oleh: Navita Kristi

Cuaca cerah di pagi hari Minggu, tanggal 25 Oktober 2015 sangat mendukung pelaksanaan kegiatan Hari Belajar Anak di Rumah Kail. Tema belajar hari ini adalah “Petualangan Menuju Kerajaan Jamur Tiram”. Seru sekali, lho!

Kegiatan belajar anak-anak dimulai pada pukul 10 pagi. Menjelang dimulainya kegiatan, anak-anak mulai berdatangan ke Rumah Kail, baik anak-anak warga sekitar Cigarugak maupun yang datang dari luar Cigarugak. Mereka menunggu dimulainya kegiatan Hari Belajar Anak dengan membaca buku di perpustakaan anak Kail. Ada juga yang mengambil kertas dan pensil dan menggambar apapun yang mereka sukai sembari menunggu dimulainya kegiatan.

Pukul 10, kegiatan dimulai dengan dongeng yang dibawakan oleh Kak Deta, yaitu tentang Jack dan Pohon Buncis. Dongeng yang dibawakannya sangat seru, sehingga anak-anak menjadi terpukau oleh dongeng yang dibawakannya.




Setelah dongeng yang dibawakan oleh Kak Deta selesai, maka masuklah kepada inti acara, yang dibawakan oleh Kak Debby dan dua relawan dari Grow School Bandung. Pertama-tama, Kak Debby mengajak anak-anak untuk bermain menjadi penjelajah hutan dan jamur-jamur kecil yang pemalu. Anak-anak dibagi ke dalam kelompok penjelajah, kelompok anak jamur berwarna pink, kuning dan biru.

Dari permainan tersebut, anak-anak yang menjadi peserta HBA kemudian terbagi ke dalam kelompok penjelajah, kelompok jamur pink, jamur kuning dan jamur putih.
Setelah kelompok terbagi, anak-anak diajak untuk mengenal bagian tubuh jamur tiram. Mereka diberi kesempatan untuk memegang jamur tiram, membelahnya dan memperhatikan letak sporanya dengan cara membuat jejak spora jamur tiram. Kemudian, mereka diberi kesempatan untuk menggambar jamur tiram di kertas berwarna-warni dan menempelkannya di kertas besar Kerajaan Jamur Tiram.






Terakhir, setelah anak-anak puas bermain dan mengenal kerajaan jamur tiram, Kak Debby membagikan beberapa kotak berisi bibit jamur tiram yang siap dibudidayakan di media tumbuh yang sudah disiapkan. Anak-anak hanya perlu mengiris lapisan plastik pembungkus media tumbuh tersebut dan menyiramnya dengan alat siram yang sudah disediakan, selama dua kali sehari. Ternyata mudah saja!

Anak-anak peserta Hari Belajar Anak hari ini pulang dengan semangat membudidayakan jamur tiram yang bergizi dan sehat. Terima kasih, Kak Debby! Terima kasih kakak-kakak dari Grow School Bandung! Terima kasih, Growbox!


Menonton Film Whispers dan Berkarya di Rumah KAIL

Hari Minggu, 31 Mei 2015, anak-anak kembali berkumpul di Rumah KAIL untuk mengikuti Hari Belajar Anak (HBA) bulan Mei. Kegiatan kali ini adalah menonton film “Whispers”, yang menceritakan kehidupan seekor gajah bernama Whispers sejak baru lahir hingga menjadi gajah dewasa. Beberapa anak Cigarukgak antusias sekali, sampai-sampai mereka sudah tiba di Rumah KAIL sebelum jam 9 pagi. Padahal kegiatan baru akan dimulai pukul 10 pagi. Menjelang pukul 10, anak-anak Cigarukgak berdatangan. Tapi, tunggu dulu! Rupanya tidak hanya anak-anak Cigarukgak yang ingin mengikuti kegiatan di Rumah KAIL pada hari ini. Ada anak-anak lain yang datang dari Giri Mekar Permai, dari Cihampelas, Cibiru dan bahkan ada kakak beradik yang jauh-jauh datang dari Soreang untuk ikut kegiatan HBA ini. Asyik, tambah banyak teman!


Mendekati pukul 10, kakak-kakak relawan KAIL terlihat sibuk menyiapkan cat poster aneka warna di dalam baki-baki kecil. Wah…, untuk apa ya? Anak-anak yang sudah ramai berkumpul agak penasaran. Tapi kakak-kakak relawan tidak mau memberitahu dulu. Masih RAHASIA, kata mereka. Meskipun tambah penasaran, tapi anak-anak bisa menunggu dengan sabar.

Pukul 10 tepat, Kak Deta mengajak anak-anak untuk berkumpul di depan Rumah KAIL. Wah, peserta HBA kali ini cukup banyak, 24 orang anak dengan beragam usia dan tempat tinggal. Kak Deta mengajak anak-anak bergandengan tangan membuat lingkaran yang sangat besaaaar, yang besar dan yang keciiil. Sesekali Kak Deta mengingatkan anak-anak untuk berhati-hati dan memperhatikan teman di sebelahnya. Setelah bermain membuat lingkaran, kak Deta lalu menjelaskan kegiatan yang akan dilakukan anak-anak.




Sebelum menonton film, anak-anak diajak berkarya membuat cap tangan di kain. Rupanya itulah guna cat aneka warna yang sudah dipersiapkan tadi. Anak-anak dipersilahkan mencelupkan telapak tangan mereka pada baki berisi cat, kemudian menempelkannya pada kain belacu yang sudah disediakan. Mereka boleh mencapkan telapak tangan mereka berkali-kali dengan warna-warna yang berbeda. Ada anak-anak yang awalnya masih ragu-ragu, sehingga sangat berhati-hati memasukkan telapak tangan ke dalam baki berisi cat, ada juga yang dengan bersemangat langsung mencoba. Beberapa menit kemudian, semua anak sudah asyik membuat cap tangan sampai kain penuh.
Setelah kain penuh, Kakak meminta anak-anak melakukan satu tugas berpasangan. Tugasnya adalah mengecapkan tangan mereka di kertas yang Kakak bagikan. Satu tangan dicapkan di kertas sendiri, dan satu tangan lagi dicap di kertas teman. Jadi setiap anak mempunyai dua cap tangan di dalam kertas mereka, satu milik mereka, dan satu lagi milik teman mereka. Setelah melakukan tugas dari Kakak, teman-teman mencuci tangan dan bersiap menonton.

 

Film Whispers diawali dengan cerita bayi gajah Whispers yang baru lahir dari seorang ibu gajah bernama Hati Lembut. Ternyata, untuk melahirkan seekor anak gajah, ibu gajah harus mengandung selama 2 tahun! Selanjutnya, film ini mengisahkan kehidupan dan perjalanan Whispers di hutan Afrika. Durasi film Whispers ini cukup panjang, sekitar satu jam lebih. Kebanyakan anak belum dapat duduk tenang menonton selama satu jam. Jadi banyak anak yang sambil menonton bolak balik mengambil minum, ke toilet atau bercakap-cakap dengan teman. Tapi, ada juga anak-anak yang antusias memperhatikan dari awal sampai akhir cerita.

Setelah film selesai, rupanya kegiatan HBA hari ini belum berakhir. Kakak membagikan kertas berisi cap tangan anak-anak yang catnya sudah kering. Anak-anak disediakan crayon dan spidol, lalu mereka menciptakan gambar gajah dari cap tangan di kertas masing-masing. Bagaimana caranya ya? Kak Deta mulai membuatnya terlebih dahulu dan menunjukkannya pada anak-anak. Tapi tentu saja itu karya Kakak. Anak-anak boleh berkreasi sebebas-bebasnya di dalam kertas gambar mereka.
Setelah anak-anak menyelesaikan gambar mereka, masing-masing anak dengan karyanya difoto oleh Kak Alfred. Hasil karyanya keren-keren lho. Sesudah difoto, anak-anak dipersilahkan mencuci tangan dan makan snack (hari ini snacknya bakpao berisi kelapa dan gula merah J) yang sudah disediakan Ibu Melly. Setelah makan snack, anak-anak pun berpamitan pulang.





Terima kasih untuk semua yang sudah hadir! Bulan depan kita berkegiatan bersama lagi ya! (DRK)

HARI BELAJAR ANAK KAIL: Membuat Kreasi dengan Stik Es Krim

Di penghujung tahun, tepatnya hari Minggu tanggal 28 Desember 2014 Kail kembali menggelar acara Hari Belajar Anak (HBA) yang rutin diadakan di minggu terakhir setiap bulannya. Bertempat di Rumah Kail, kegiatan HBA bertepatan dengan liburan sekolah, hari Natal dan Tahun Baru. Peserta yang datang adalah anak-anak sekitar Rumah Kail dan lingkungan terdekat yang berjumlah 32 orang anak. Di acara HBA sebelumnya banyak juga peserta yang datang dari kota Bandung yang jaraknya cukup jauh dari Kampung Cigarukgak.

Yang mengisi HBA kali ini adalah saya (Bu Ela) dan Ibu Melly, dengan agenda membuat kreasi dengan stik es krim. Kami membuat aneka persiapan satu hari sebelumnya yaitu menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan, setting ruangan dan membuat beberapa bentuk kreasi yang akan dijadikan contoh. Tidak lupa Ibu Melly membriefing saya untuk ikut membantu membawakan acara, memandu permainan dan pendamping untuk anak-anak usia 6 tahun kebawah. Selain itu, saya juga merangkap sebagai petugas dokumentasi. Maklumlah untuk kegiatan kali ini yang bertugas hanya kami berdua, otomatis semua pekerjaan kami pegang. Cukup repot memang, apalagi bagi saya yang belum berpengalaman memandu acara permainan dan langsung berinteraksi dengan anak-anak. Hal ini sempat membuat saya bingung dan sedikit takut jika salah. Untunglah kegiatan berjalan lancar.


Acara dimulai dengan membagi anak-anak menjadi dua kelompok, yaitu usia 6 tahun kebawah dan usia 7 tahun ke atas. Masing-masing kelompok usia memulai dengan permainan, yaitu Polisi dan Pencuri, dan Jempol Ajaib. Seru sekali permainannya. Kemudian dilanjutkan dengan mengisi gambar pohon harapan dan pemutaran film lingkungan. Setelah itu masuk ke agenda utama yaitu membuat kreasi dengan stik es krim. Anak-anak membuat berbagai jenis kreasi menggunakan media yang ada. Dalam waktu dua jam, yaitu dari jam 10.00-12.00 WIB acara selesai dilaksanakan.



Dengan tugas yang borongan dan tidak ada relawan yang membantu, rasa cape dan lelah pasti ada. Terutama bagi saya yang masih kebingungan. Sejak acara dimulai, perasaan jadi campur aduk. Walaupun demikian, bagi saya acara tersebut sangat berkesan dan menyenangkan. Kami pun pulang dengan rasa puas dan hati riang. (Ela Kamila)




Berkarya dengan Benang Wol dan Mendengarkan Dongeng

“Rumah berwarna putih itupun menandakan bagaimana kekuatan gelap telah dikalahkan oleh kebaikan, dan warga diminta bantuan untuk mewarnai setiap jengkal dari sisi rumah putih tersebut.Kalimat inilah yang diungkapkan Teh Kenny Dewi pada pagi hari itu. Selanjutnya Teh Kenny meminta bantuan anak-anak untuk mewarnai rumah-rumahan berwarna putih dengan cat air yang ada di meja di samping rumah-rumahan tersebut.

Kegiatan hari belajar KAIL pada hari Minggu, 26 Oktober 2014 itu memang dimulai dengan hangat oleh Teh Kenny. Teh Kenny menceritakansebuah dongeng yang sungguh menarik. Dongeng itu berisi cerita yang mengajarkan kepada kita bagaimana hidup bergotong-royong, tolongmenolong,  selalu bersabar, serta rajin berbuat baik. Dongeng ini membuka kegiatan Hari Belajar Anak KAIL bulan Oktober itu.



Setelah mendengarkan dongeng dari Teh Kenny, kegiatan HBA ini berlanjut dengan membuat makhluk pompom dari benang wol. Kegiatan membentuk makhluk pompom ini dipandu oleh Kak Deta. Anak-anak diajarkan cara melilitkan benang wol tersebut di jari atau pensil/pulpen yang cukup kuat untuk membentuk pola yang diinginkan.Setelah itu, dengan hati-hati lilitan benang tersebut digunting dan kemudian dipasangi mata sehingga terbentuklah makhluk pompom yang kita inginkan.  Membuat makhluk pompom ini tidak begitu sulit, akan tetapi menuntut ketelitian untuk membentuknya.


Setelah membuat makhluk pompom, anak-anak kemudian belajar cara membuat kerajinan Ojos de Dios. Ojos de Dios (dalam bahasa Spanyol berarti God’s Eye atau Mata Tuhan) adalah sebuah kerajinan yang terbuat dari benang dan kayu, yang bermakna spiritual bagi masyarakat Meksiko.  Ojos de Diosseringkali dibuat dengan menggunakan benang warna-warni. Dua batang ranting kayu (dapat juga menggunakan pensil atau sumpit kayu) disilangkan, lalu diikat kuat menggunakan benang wol. Selanjutnya benang wol warna-warni dililitkan itu pada ranting kayu tersebut dengan pola tertentu sampai seluruh batang kayu terliliti benang wol. Seperti halnya membuat makhluk pompom, membuat kerajinan Ojos de Dios pun tak begitu sulit, tetapi membutuhkan ketelitian dan ketekunan untuk meliliti kayu yang dipasang sebagai pola dasar tadi.


Kegiatan yang diikuti oleh 25 anak-anak pagi itu berlangsung sangat seru. Peserta terdiri dari anak-anak yang sudah rutin mengikuti HBA maupun yang baru pertama kali mengikuti kegiatan HBA. Tidak ketinggalan, orang tua dan pembimbing anak-anak yang hadir pagi itu juga terlihat sangat menikmati bagaimana melilit kayu, menggunting dan menghias karya mereka masing-masing. Kegiatan pun berakhir pukul 12 siang, ditutup dengan makan snack bersama.










HARI BELAJAR ANAK KAIL: Membuat gambar menggunakan cetakan daun dan membuat label hadiah menggunakan barang bekas

Dihadiri oleh 34 orang anak, kegiatan Hari Belajar Anak (HBA) kali ini agendanya membuat gambar menggunakan cetakan daun. Seperti biasa, kegiatan HBA dilaksanakan di Rumah Kail dengan mengundang anak-anak di sekitar Rumah Kail dan sekitarnya, juga dihadiri oleh peserta dari luar Cigarukgak. Keragaman kelompok usia dan latar belakang peserta menambah kekayaan teman, karakter dan sifat berbagi antar peserta.

Acara dimulai pada pukul 14.00 dengan runutan acara yaitu pembukaan oleh kak Deta, dilanjutkan dengan permainan, kemudian mendongeng oleh Teh Novi Mudzakir. Setelah anak-anak mendengarkan dongeng,  langsung masuk ke agenda utama yaitu membuat gambar menggunakan cetakan daun. Anak-anak dibagi menjadi empat kelompok dan masing-masing kelompok didampingi oleh relawan/mentor anak yaitu Melly, Deta, Ella dan Arif.

Pada masing-masing meja kelompok sudah disediakan peralatan dan bahan yang dibutuhkan. Tapi ada juga sebagian anak yang berinisiatif mencari daun di halaman belakang Rumah Kail. Anak-anak menggambar beragam bentuk dengan menggunakan media daun yang sudah diolesi/ditempel cat air. Ternyata hasilnya sangat menarik ya! Selanjutnya anak-anak boleh melanjutkan membuat kreasi yang kedua yaitu membuat label hadiah dalam bentuk kartu atau lembaran kertas menggunakan bahan-bahan bekas. Hasil karya anak-anak pun boleh dibawa pulang. Setelah berkegiatan, anak-anak pun disuguhi panganan lokal dari Cigarukgak.
Melihat wajah anak-anak yang senang dan bahagia, menyurutkan kelelahan dan keharuan hati kami para pendamping. Semoga di pertemuan berikutnya kami bisa bertemu kembali.










Hari Belajar Anak di Hari Ulang Tahun KAIL

Di peringatan Ulang Tahun Kail yang ke12, diselenggarakan hari belajar anak, tepatnya pada tanggal 6 Juli 2014 jam 13.00-15.00 WIB. Jatuh sebelum waktu dimulai, anak-anak telah berkumpul di Rumah KAIL. Mereka menanti kegiatan hari belajar anak. Kurang lebih 50 anak mengikuti kegiatan tersebut. Acara dipandu oleh Kakak Deta yang membawakan permainan pembukaan, Bunda Novi yang mendongeng untuk anak-anak dan mengajak anak-anak menggambar bersama. Semangat sekali anak-anak menggambar. Karya mereka kemudian dipajang di dinding lantai bawah Rumah Kail. Setelah selesai mengikuti hari belajar anak, anak-anak berkunjung ke basaar.

HARI BELAJAR ANAK KAIL: Gelang Cina

Pada tanggal 22 Juni 2014 hari minggu lalu Rumah KAIL kembali diramaikan oleh kegiatan Hari Belajar Anak.  Ada yang istimewa dari agenda rutin KAIL tersebut, yaitu kedatangan tiga orang kawan dari Garage Sale Sekolah Ibu (GSSI). Mereka adalah Aghni sebagai pendiri GSSI, ditemani oleh Dyah dan Dhyta yang berbagi cara membuat gelang tali bersama anak-anak sekitar Kampung Cigarukgak. Acara tersebut berlangsung di siang hari.

Anak-anak di sekitar Cigarugak selalu antusias mengikuti acara Hari Belajar Anak. Tidak kurang dari 15 orang anak datang bersama-sama ke Rumah KAIL yang selalu disambut hangat oleh staf KAIL. Rangkaian acara dimulai dengan perkenalan nama masing-masing dan permainan mengasah keterampilan dan kekompakan peserta. Kemudian anak-anak dibagi menjadi beberapa kelompok lebih kecil, tujuannya agar anak yang lebih besar bisa membantu anak yang lebih kecil. Di sini mereka diasah kemampuan kerjasama dan saling menghargai. Kak Aghni dan Kak Dhyta dari GSSI menunjukan cara membuat gelang dari tali Cina di depan ruangan kemudian adik-adik peserta mengikutinya. Caranya cukup mudah dan tidak memerlukan alat, hanya membuat simpul-simpul menggunakan tangan kita sendiri. Baik peserta maupun kakak-kakak mentornya terlihat senang sekali ketika gelangnya telah jadi dan dikenakan semua.

Setelah itu Kak Dhyta mengajak adik-adik peserta menonton video tentang seorang anak dari Cina yang mempunyai kekurangan fisik yaitu tidak mempunyai kaki tetapi berhasil mewujudkan mimpinya menjadi atlet renang. Semua anak terkesima menonton video tersebut dan terdengar celoteh-celoteh polos khas mereka. Kak Dhyta menjelaskan dengan luwes dan sangat sabar agar adik-adik peserta mengerti makna dari video yang ditayangkan. “Kita harus percaya mimpi dan berusaha sekuat mungkin dan tidak mengeluh untuk meraih cita-cita”, kira-kira seperti itu yang disampaikan Kakak berkerudung pink bertutur kata halus tersebut. Setelah itu semua anak diajak untuk menggambar cita-cita atau profesi yang diinginkan di masa depan. Ada yang menggambar polisi, dokter, guru dan pilot. 

Di akhir acara, kakak-kakak dari GSSI membagikan hadiah menarik bagi mereka yang mau bercerita tentang cita-citanya di depan. Tidak lupa tentunya acara ditutup dengan berfoto bersama.


HARI BELAJAR ANAK KAIL: Topeng dari Kertas Karton

Minggu, 27 April 2014. Setelah di pagi hari Rumah KAIL diramaikan oleh para ibu dengan workshop arpillera, siang hari giliran anak-anaknya yang bersemangat untuk mengikuti Hari Belajar Anak bulan April ini. Rencananya acara dijadwalkan pada pukul 2 siang, namun anak-anak dari sekitar kampung Cigarukgak sudah berdatangan dari pukul 1 siang. Terlihat sekitar lebih dari 20 orang anak memenuhi ruangan pertemuan lantai atas Rumah KAIL. Hari Belajar Anak bulan ini ternyata dihadiri lebih banyak anak dari biasanya. Sebagai pembukaan, Melly mengajak anak-anak untuk menonton film kartun edukasi anak-anak dan menyanyikan lagu Halo-Halo Bandung  bersama-sama. Setelah suasana mencair dengan perkenalan masing-masing anak, Hari Belajar Anak kali ini mengajak mereka untuk berkreasi membuat topeng dari kertas karton.

Bahan-bahan yang diperlukan untuk membuat topeng yaitu kertas karton, gunting, lem, pensil warna, glitter, mute, dan sedotan. Setelah karton dibentuk menjadi topeng dan dilubangi di bagian matanya, lalu saatnya untuk menghias sesuai kreativitas masing-masing anak. Saat menghias inilah yang ditunggu-tunggu mereka, mewarnai, mengelem, menempel dilakukan mereka dengan semangat. Terlihat anak-anak yang berusia lebih besar membantu anak-anak yang lebih kecil usianya. Anak-anak juga ternyata bisa diminta untuk tidak berebut dan sabar. Nilai-nilai kebersamaan sejak dini coba diterapkan. Selain itu, di setiap acara KAIL anak-anak tidak diperkenankan untuk membeli jajanan agar dapat menjaga kesehatan dan mengurangi sampah kemasan. Sebagai gantinya, KAIL menyediakan makanan sehat yang kali ini adalah donat aneka rasa hasil buatan warga sekitar. Sebelum pulang, tidak lupa anak-anak diajak untuk mengabadikan moment-nya dengan berfoto bersama sambil memamerkan karya topeng yang telah dibuat oleh mereka. Sampai jumpa di Hari Belajar Anak bulan depan ya! J

HARI BELAJAR ANAK KAIL: Mengenal Serangga pada Hari Belajar Anak


Pada Hari Belajar Anak tanggal 23 Maret 2014, KAIL mengajak anak-anak untuk mengenal dan membuat berbagai jenis serangga menggunakan kardus bekas.  Anak-anak yang hadir dalam kegiatan ini adalah anak-anak sekitar Rumah KAIL dan anak-anak staf KAIL, berjumlah sekitar 25 orang. Sebagai pendamping Hari Belajar Anak adalah Melly Amalia, Ela Kamilah dibantu oleh beberapa orang tua anak-anak.




Di awal kegiatan, anak-anak diajak membuat lingkaran dan melakukan permainan dengan bernyanyi dan bergerak. Setelah itu masuk ke aktivitas membuat berbagai jenis serangga, diantaranya lebah, kumbang, semut, kupu-kupu dan ulat. Tampak anak-anak sangat menikmati proses membuat serangga pilihannya masing-masing. Bahkan beberapa anak yang membuat lebih dari satu jenis serangga.

HARI BELAJAR ANAK KAIL: Kreasi dari Sidik Jari


Pada tanggal 23 Februari 2014 yang lalu KAIL menyelenggarakan Hari Belajar Anak di Rumah KAIL untuk pertama kalinya. Dalam Hari Belajar Anak tersebut, KAIL mengajak anak-anak untuk membuat kreasi menggunakan sidik jari.  Anak-anak yang hadir dalam kegiatan ini adalah anak-anak dari keluarga staf dan teman-teman Kail.  Bertindak sebagai pendamping Hari Belajar Anak adalah Melly Amalia dan Ela Kamilah


Alat dan bahan yang dibutuhkan untuk membuat kreasi sidik jari ini sangat sederhana, yaitu kertas, cairan berwarna seperti cat air atau larutan pewarna makanan yang aman untuk jari anak-anak. Kemudian anak-anak mencelupkan jari mereka ke pewarna dan mencetaknya di kertas. Ternyata membuat anak-anak berkreasi, tidak selalu harus menggunakan peralatan yang mahal. Dengan memanfaatkan sidik jari pun, anak-anak bisa berkreasi membuat berbagai macam bentuk sesuai kreativitas masing-masing.

Boneka Jari di Hari Belajar Anak

Pada tanggal 25 Oktober 2013 yang lalu, Kail menyelenggarakan Hari Belajar Anak dengan tema Membuat Boneka Jari (Finger Puppets). Kegiatan ini dipandu oleh Kak Titin (Agustein Okamita) bertempat di Urban Center YPBB di Jln. Sidomulyo 21, Bandung.


KAIL Merayakan Tujuh Belasan Bersama Dengan Anak-anak


Hari Belajar KAIL kali memiliki nuansa HUT Kemerdekaan Republik Indonesia, di mana ada perlombaan yang diperuntukkan bagi anak-anak. Kegiatan kali ini cukup ramai dengan anak-anak, di antaranya ada anak-anak dari Rumah Mentari yang dibawa oleh Dhitta Puti Sarasvati.

Sebelum perlombaan diadakan, kegiatan Hari Belajar KAIL diisi oleh Garage Sale Sekolah Ibu (GSSI) yang mengajak para peserta untuk melukis di atas medium baju, kain perca dan sepatu. Lukisan yang sudah selesai akan menjadi permanen sehingga menjadi pola yang unik. Anak-anak melukis dengan antusias, bahkan anak-anak kecil sangat antusias sehingga tampak bagian tubuhnya terdapat bekas cat, bahkan cat tampak tercecer di alas duduk.


Setelah selesai melukis, anak-anak pun digiring ke lapangan Sidomulyo untuk memulai perlombaan tujuh-belasan. Walau sudah bukan tanggal 17, namun nuansa perlombaan ala tujuh-belasan masih bisa dibangkitkan. Para relawan dari GSSI dengan sigap mempersiapkan arena perlombaan dan mengajak anak-anak untuk mengikuti perlombaan.
 
Perlombaan yang diadakan antara lain : membawa kelereng di atas sendok, balap karung, melempar bola ke dalam kardus, menyusun puzzle. Setelahnya, para juara perlombaan dikumpulkan untuk penyerahan hadiah. Sebelum hadiah diserahkan, Aghnie dari GSSI memandu permainan penebang kayu dan tupai, keriuhan timbul karena para peserta harus bergerak cepat bilamana ada instruksi "hutan kebakaran".


Agustein Okamita selaku koordinator kegiatan Hari Belajar Anak telah mempersiapkan hadiah-hadiah hasil sumbangan para dermawan untuk anak-anak. Navita Astuti kemudian menyerahkan hadiah untuk anak-anak yang berumur di bawah 7 tahun dan yang 7 tahun ke atas. Lalu, Agustein Okamita membagikan hadiah bagi anak-anak lain sebagai bentuk apresiasi atas usaha mereka, dan semua pun senang. Ada juga hadiah buku bacaan yang dibagikan kepada anak-anak yang berusia di bawah 7 tahun.


Ada apa lagi ya di Hari Belajar KAIL yang akan datang? Kita nantikan liputan kegiatannya.