Tampilkan postingan dengan label Hari Belajar KAIL. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hari Belajar KAIL. Tampilkan semua postingan

[INFO KEGIATAN] Hari Belajar KAIL "Self-Healing for Healthy & Happy Life"


Banyak kerja keras dilakukan oleh seorang aktivis untuk mencapai perubahan yang diinginkan. Kelelahan dan stress, atau burning out, adalah persoalan yang kemudian banyak dihadapi. Hal tersebut tentu dialami semua aktivis di berbagai bidang garap.

Lalu ketiadaan ruang dan waktu untuk memikirkan diri sendiri pun menghabiskan energi. 
Jika kita kehabisan energi, lalu bagaimana harapan-harapan kita dapat dicapai?

Hari Belajar KAIL "Self-Healing for Healthy & Happy Life" 
menyediakan ruang bagi siapa saja yang rindu memulihkan dan menyegarkan dirinya.

Kegiatan ini akan diadakan pada
Sabtu, 28 Oktober 2017
Pukul 08:00-16:00
di Rumah Kail
Kp. Cigarugak, Desa Girimekar,
Kec. Cilengkrang, Kab. Bandung
(bit.ly/rumahkail)

Anda bisa bergabung dan menemukan cara-cara kreatif dan mandiri untuk recharging diri Anda. Termasuk menemukan kawan-kawan untuk berbagi makna kesehatan dan kebahagian.

Bergabunglah dengan mendaftar di
bit.ly/HBK1710 (Paling lambat 26 Okt 2017)
dengan kontribusi Rp 35.000
(Termasuk makan siang & snack sehat)

Mari bergabung, semua diundang.

[LIPUTAN] Hari Belajar Kail: Mencapai Kehidupan Holistik melalui Pola Hidup Sehat Alami

oleh Rilis Eka Perkasa



Cerahnya cuaca menghiasi suasana pagi akhir pekan itu. Matahari pagi seolah menyemarakkan jalannya Hari Belajar KAIL (HBK) pada Sabtu, 29 Juni 2017. HBK yang mengambil tajuk “Pola Hidup Sehat Alami – Hidup Sehat dan Penyembuhan Diri Berdasarkan Ilmu Medis” ini dihadiri oleh 7 orang peserta dari berbagai latar belakang. Enam peserta ini nantinya akan mengikuti presentasi tentang pola hidup sehat dan workshoppraktik olah napas yang dibawakan oleh dr. Rini Damayanti, DCN. Dengan keahliannya sebagai praktisi olah napas dan olah gerak Bio Energy Power (BEP), Ibu Rini meningkatkan wawasan peserta mengenai pengaturan pola hidup selama 3 jam ke depan dengan dipandu oleh relawan moderator Okie Fauzi Rachman.


Kesehatan mungkin memang bukan segalanya sehingga banyak orang yang tidak benar-benar merasakan kehadirannya. Demikian pendapat dr. Rini saat membuka pemaparannya. Namun Beliau menekankan bahwa tanpa kesehatan segala hal menjadi tiada artinya. Beruntunglah manusia, karena manusia memiliki kemampuan untuk menyembuhkan dirinya sendiri. Secara alami, tubuh manusia dapat menyembuhkan penyakit yang dideritanya apabila ditunjang dengan pola hidup yang tepat, mulai dari berpola pikir positif, mengkonsumsi makanan yang baik dan benar, berolahraga secara rutin, hingga memastikan tubuh menerima sinar matahari dan udara segar.

Sesekali, pemaparan diselingi oleh diskusi dengan para peserta. Diskusi paling seru berlangsung saat membicarakan masalah makanan yang baik. Berbagai persoalan dalam pengolahan makanan dibahas, mulai dari rasio yang tepat antara sayuran dalam makanan sehari-hari, buruknya memasak ulang atau memanasi makanan, hingga bahwa sebenarnya labu tidak perlu dikupas untuk dikonsumsi. Semua dilakukan untuk memaksimalkan kandungan gizi dan serat dari makanan yang disantap sehari-hari. Pola istirahat juga harus diperhatikan untuk menjaga kesehatan tubuh. Menurut Ibu Rini, hati manusia bekerja maksimal di malam hari, kira-kira antara pukul 11 hingga 1 malam. Oleh karenanya, sebaiknya di saat-saat itu seseorang tidur agar hatinya dapat bekerja dengan baik.

Menginjak pembahasan mengenai pernapasan, dr. Rini mengajak peserta untuk memahami metode yang tepat untuk melatih pernapasan. Beliau menganjurkan untuk menggunakan hidung untuk menarik napas dan menggunakan mulut untuk membuangnya. Hal ini dilakukan untuk menjaga kesehatan organ-organ pernapasan dan meningkatkan kualitas udara yang dihirup. Selanjutnya, Ibu Rini mengajarkan gerakan-gerakan untuk melatih pernapasan. Menariknya, latihan pernapasan ala BEP tidak melulu memperhatikan unsur fisiologis dalam pernapasan. Unsur chi atau energi tubuh, yang disentuh secara mendalam pada pengobatan alternatif Asia Timur, juga turut dijadikan perhitungan. Oleh karenanya, gerakan-gerakan yang dilakukan juga ditujukan untuk mengoptimalkan peredaran chi dalam tubuh. Jadilah gerakan latihan pola pernapasan ini layaknya gerakan-gerakan dalam seni bela diri Tai Chi.

Acara kemudian dilanjutkan dengan workshop olah napas. Para peserta diajak duduk melingkar dengan nyaman di atas kursi. Pertama-tama, para peserta mempraktikkan metode bernapas yang baik. Sembari berkelakar, dr. Rini menyampaikan, “Tidak perlu kuatir muka jadi jelek waktu latihan olah napas.” Memang, ketika menarik napas dalam-dalam dengan metode yang benar wajah terlihat seolah-olah seperti sedang manyun atau cemberut. Pelatihan kemudian dilanjutkan dengan mempraktikkan gerakan dasar yang sebelumnya sudah dicontohkan dan memadukannya dengan gerakan-gerakan lain sehingga didapat tiga jenis pola gerak. Untuk melatih pernapasan, ketiga pola gerak tadi dilakukan sebanyak lima set. Untuk menutup latihan pernapasan, dilakukanlah gerakan penutup. Di akhir sesi workshop, dr. Rini menyebutkan bahwa sebaiknya latihan ini dilakukan secara rutin sebanyak 10-20 set tiap harinya untuk menjaga kesehatan tubuh.


Mentari yang terus bersinar cerah hari itu menggambarkan keceriaan HBK yang berlangsung hingga lewat tengah hari. Setelah acara ditutup, para peserta bersama Ibu Rini berfoto bersama di taman belakang Rumah KAIL. Di akhir acara, menepati nasihat Ibu Rini mengenai makanan, para peserta bersantap siang bersama dengan sajian nasi karedok, buah-buahan, dan jamu tradisional. Secara keseluruhan, acara berlangsung ceria dan cair dengan banyak selingan tawa dan canda. Dr. Rini yang cukup senior rupanya mampu membawa acara dengan ringan dan santai di depan peserta.

Hidup sehat rupanya cukup mudah diperoleh dengan konsisten menerapkan pola hidup sehari-hari yang positif. Melalui dr. Rini, para peserta memperoleh pengetahuan mengenai pengaturan makanan hingga pelatihan bernapas untuk mengaktifkan kemampuan tubuh menyembuhkan dirinya sendiri. Latihan olah napas ini pun dapat dilakukan dengan sangat mudah. Format gerakan berseri pun memudahkan kita untuk melakukan olah napas dalam sesi-sesi pendek sepanjang hari di sela-sela kesibukan.

Pada akhirnya, sesuai dengan harapan yang disampaikan oleh para peserta di awal acara, pengetahuan yang diperoleh selama seminar dan workshop diharapkan dapat diterapkan secara konsisten untuk dapat menjaga kesehatan tubuh secara holistik.

[LIPUTAN] Peluncuran Pro:aktif Online: Mengenal Diri Bagi Aktivis

oleh Claudia Andjani


Telah diadakan Peluncuran Pro:aktif Online dengan tema Mengenal Diri Bagi Aktivis. Kegiatan ini diadakan pada tanggal 29 April 2017 di Rumah Kail. Para relawan kontributor majalah Pro:aktif Online hadir sebagai pembicara. Turut hadir pula 11 peserta dari berbagai latar belakang seperti mahasiswa, pegiat anak, pegiat lingkungan, maupun masyarakat umum.



Acara hari itu dibuka dengan beraktivitas di halaman belakang Rumah Kail. Seluruh peserta mulai memperkenalkan diri sambil berdiri melingkar. Dengan dipandu oleh relawan fasilitator Debby Josephine, peserta melakukan meditasi bersama. Alunan musik yang mengiringi, bersama sinar matahari pagi menambah rasa relaks kami pagi itu. Setelah selesai bermeditasi, Debby mulai memberikan pengenalan tentang Kail dan Rumah Kail. Peserta juga diajak berkeliling Rumah Kail, sambil diberi penjelasan tentang fungsi dari setiap bagian Rumah Kail. Setelah berkeliling, para peserta diajak masuk ke dalam Rumah Kail dan acara pun dilanjutkan. Kali ini, disampaikan pengantar dari KAIL, kemudian dilanjutkan penjelasan tentang Hari Belajar Kail itu sendiri, diikuti pengenalan majalah Proaktif Online yang segera diluncurkan. Setelahnya, peserta dipersilahkan untuk rehat sejenak dan menikmati makanan dan minuman sehat yang telah disiapkan. Hari itu, hidangan yang disajikan di antaranya pisang rebus dan wedang jahe hangat.


Acara dilanjutkan dengan sesi pertama yaitu sesi sharing penulis Proaktif Online, dengan tema Pentingnya Mengenal Diri untuk Aktivis. Acara ini dipandu oleh moderator Navita K. Astuti, Dalam sesi ini, Anastasia Levianti mengawali dengan berbagi cerita mengenai perkataan dosen beliau semasa berkuliah di jurusan psikologi dahulu, yaitu “Setiap pendapat manusia adalah refleksi”. Beliau juga mengkombinasikan cerita tersebut dengan pengalaman beliau dalam menghadapi rasa kesalnya dengan seorang teman di masa lalu. Dari pengalaman tersebut, beliau mengajak para peserta untuk merefleksikan diri; berkaca dari apa yang telah dilakukan sebelum menghadapi suatu masalah. Kami diajak untuk “berdamai” dengan suatu hal atau masalah atau apapun yang dihadapi. Bahwa diperlukan kondisi diri yang “netral” untuk menggali potensi terbaik dari tiap diri kita. Dengan begitu, kita dapat menghadapi permasalahan kita dengan lebih baik.

Di sesi pertama ini, Fransiska M. Damarratri juga membagi pengalamannya terkait dengan refleksi diri. Beliau membagi cerita-cerita yang didapatkan saat bercakap-cakap dengan berbagai aktivis tentang bagaimana mereka menemukan dan menjaga rasa keprihatinan akan berbagai hal di sekitarnya. Dijelaskan bahwa para pegiat atau aktivis tersebut pada umumnya memiliki kesamaan, dimana dalam melakukan kegiatannya, mereka senantiasa mengenali diri mereka sebelum bertindak.


Sesi berbagi 1 pun berakhir, tiba waktunya untuk makan siang. Makanan yang dihidangkan oleh KAIL ini juga merupakan makanan sehat, yaitu nasi dengan lauk pauk berupa sayur urap, tempe goreng, dan telur; makanan pun dihias dengan cantik dengan dilengkapi bunga berwarna ungu yang ternyata bisa dimakan. Peserta diajak menyantap makan siang seperti cara makan tradisional; duduk secara lesehan bersama-sama membentuk lingkaran, kemudian makanan di-estafet-kan dari orang satu ke orang lainnya. Suasana siang itu terasa akrab, dilengkapi obrolan singkat dan angin semilir yang masuk dari halaman rumah. Makan siang hari itu diikuti dengan games ringan dengan seluruh peserta.



Setelah makan siang, peserta pun diminta untuk menuliskan gambaran tentang diri kita dalam beberapa kertas kecil berwana, kemudian peserta dibagi dalam kelompok kecil. Dalam kelompok kecil tersebut, peserta berbagi tentang kelebihan dan kelemahan diri masing-masing, serta memberikan masukan satu sama lain. Akhirnya, para peserta merangkai masukan-masukan tersebut dalam suatu kertas karton besar, dan mempresentasikannya di depan yang lain. Beberapa kesimpulan didapat; sungguh cara yang menarik, jawaban-jawaban akan pertanyaan dalam diri ternyata tidak jauh dan tidak serumit yang dibayangkan, dan ternyata orang-orang di sekitar kita dapat membantu kita, mengenal diri kita sendiri.

Sesi selanjutnya dipandu oleh relawan moderator Melly Amalia. Pembicara Yanti Herawati membagi perjalanannya dalam mengenal diri. Beliau bercerita tentang kesulitan yang dihadapi semasa kecilnya dan bagaimana beliau menemukan kedamaian setelah mencoba membagi waktu dengan alam. Sambil bercerita, beliau menunjukkan foto-foto yang menunjukkan momen-momen beliau di alam terbuka, khususnya di sekitar Bandung. Ternyata proses mengenal diri tidak selalu harus dilakukan saat di tempat yang ruang yang sepi, melainkan dapat dilakukan dimana saja. Alam terbuka, sebagai salah satu alternatif lokasi bagi kita dalam mengenal diri, dapat membantu kita menyadari apa yang Tuhan berikan pada kita, berefleksi atas segala yang terjadi pada kita, hingga akhirnya bersyukur dan berbahagia karenanya.




Sesi berbagi ini kemudian dilanjutkan dengan Dyahsynta Hadiansyah, seorang praktisi yoga yang membagi pengalamannya mulai dari sebelum menjadi pelatih. Ia belajar bahwa dalam berolahraga seyogyanya membuat kita lebih mengenal dan mencintai tubuh kita. Hal inilah yang beliau dapatkan dari yoga, dan akhirnya membuat beliau memutuskan mempelajarinya lebih dalam. Beliau bercerita bahwa yoga tidak hanya membuat tubuhnya bugar, tetapi juga membuatnya belajar banyak tentang hidup, dan membuat beliau lebih mengenal serta mencintai tubuhnya. Sesi ini kemudian ditutup dengan berlatih yoga ringan yang dipandu oleh Synta.


Rangkaian acara ini didukung oleh para relawan: Debby Josephine sebagai fasilitator, Melly Amalia sebagai moderator, Fadhilahani Aulia sebagai notulis, dan Claudia Andjani sebagai foto dan liputan.


Sebelum sesi akhir dimulai, peserta kembali disuguhkan dengan makanan sehat, yaitu rujak buah segar dan tentu saja jahe hangat. Setelahnya, penghargaan bagi para relawan penulis Proaktif Online berupa buku pun dibagikan. Setiap penulis Proaktif Online berhak mendapatkan buku bacaan dari Kail. Lalu sebelum pulang, dibagikan pula doorprize untuk peserta dari kebun Kail yaitu buah-buahan serta bibit tanaman.

[LIPUTAN] Memahami Kompleksitas melalui Seni Gerak dan Tari

Liputan Hari Belajar KAIL

Pagi itu, Sabtu, 18 Maret 2017. Meski hujan mengguyur tanah Bandung sejak subuh, tapi langkah para peserta untuk hadir dalam kegiatan Hari Belajar KAIL (HBK) pun tidak surut. HBK kali ini dibawakan oleh Ratna Yulianti (Bude Ratna) dari Semesta Tari dengan tajuk “Nusantari”. HBK Nusantari dihadiri oleh 13 peserta berlatar belakang aktivis, mahasiswa, maupun peminat tari. Sesuai dengan semangat dan keahliannya, Bude Ratna mengajak para peserta untuk berlatih sekaligus memahami seluk beluk seni gerak dan tari, terutama dari budaya Nusantara Indonesia.

Bude Ratna dari Semestar Tari memberikan materi pengantar Nusantari dan berkesadaran
dalam seni gerak dan tari. (Dok KAIL)

Bude Ratna mengawali sesi pada hari itu dengan presentasi mengenai seni gerak dan tari. Ia mengawali presentasinya dengan mengungkapkan satu kata: kompleksitas. Sebuah tarian memiliki kompleksitas tertentu yang membutuhkan kesadaran dan kepekaan para pelaku tari. Ditambah lagi, dengan beragamnya budaya asal tarian di negara Indonesia, yang menambah kompleksitas antara satu tarian dengan tarian yang lain. Sebuah tarian selain memiliki aspek teknis dan memiliki aspek kontekstual yang ditinjau berdasarkan latar belakang historis, budaya atau lingkungan yang melatarbelakangi terbentuknya sebuah tarian.

Apakah tari merupakan sebuah gerakan yang indah? Ya, semua tarian adalah ekspresi keindahan. Namun, keindahan itu relatif sifatnya, tergantung selera maupun budaya yang melatarbelakangi terciptanya sebuah tarian. Bude Ratna memberi contoh tarian yang dilakukan oleh para lelaki di Flores dengan gerakannya yang bernuansa maskulin. Beliau juga memberi contoh Tari Topeng khas Cirebon yang ditarikan oleh Rasinah. Setiap tarian memiliki keindahannya masing-masing.

Sebuah tarian didukung oleh elemen-elemen dasar berikut ini: ruang, tenaga, waktu dan makna penjiwaan. Dalam sebuah tarian, tubuh yang menari membutuhkan ruang sekaligus menciptakan ruang. Tenaga, adalah energi yang dikeluarkan untuk sebuah tarian. Besar kecilnya energi dalam sebuah tarian melahirkan dinamika gerak yang keras maupun lembut. Waktu, terkait dengan pengorganisasian irama antara lagu dan gerak. Irama dapat diatur cepat atau lambat sesuai dengan kebutuhan.

Berdasarkan elemen-elemen dasar yang mendukung sebuah tarian, Bude Ratna mengajak para peserta untuk masuk ke dalam penyusunan sebuah tari kreatif (creative dance). Para peserta dibagi ke dalam tiga kelompok. Setiap kelompok diberi jenis tarian Nusantara dari tiga daerah, yaitu: Jawa, Bali dan Melayu.
Sebelum sesi kelompok, Bude Ratna mengajak peserta mengenali ruang dan diri melalui pemanasan. Selain itu peserta Pelatihan juga disuguhi panganan sehat dan jamu dari Rumah KAIL (Dok KAIL)

Kelompok-kelompok tersebut diberi waktu 30 menit untuk merancang tarian dengan ciri khas gerakan dari daerah yang dimaksud. Setiap orang di dalam kelompoknya diharapkan menyumbang satu jenis gerakan. Sesudah berlatih selama 30 menit, setiap kelompok mendapat kesempatan untuk mempertunjukkan rancangan tarian mereka.

Peserta dibagi menjadi tiga grup tari yang masing-masing berproses secara berkelompok. (Dok KAIL)

Di akhir acara, para peserta diajak untuk merefleksikan pengalaman merancang tarian di dalam kelompok. Refleksi peserta cukup beragam. Di antaranya mengungkapkan bahwa dengan belajar sebuah tarian, ia menyadari kemampuan diri dan keterbatasannya. Seorang peserta pun mengungkapkan pemaknaannya bahwa dalam kompleksitas sebuah tarian, seseorang perlu memahami dan mendengarkan orang lain. Sementara peserta lain tersadar, bahwa sebuah tarian dapat memberikan sebuah pesan tertentu. Semua penari di dalam kelompok memiliki kesempatan memberikan kontribusi dan aspirasi tentang alur dan gerak tarian. Dalam hal ini, terjadi komunikasi dan proses saling memahami antar anggota tim yang memiliki latar belakang beragam.

Akhir kata, pengalaman berlatih gerak dan tari bersama Bude Ratna memberi kesempatan bagi para peserta untuk pertama-tama memahami kondisi dan diri sendiri. Selanjutnya, para peserta turut berproses memahami kondisi, kehendak, dan keberagaman yang terjadi dalam proses berkelompok. Proses memahami kompleksitas dalam tari tersebut menjadi praktek pembelajaran tersendiri bagi para peserta Hari Belajar Kail.


Foto bersama seluruh peserta setelah melaksanakan presentasi tari singkat satu sama lain. (Dok KAIL)

Lokakarya Self Healing untuk Staff dan Relawan KAIL

Fransiska Damarratri & Any Sulistyowati 

Pada tanggal 4-5 Februari 2017 yang lalu KAIL menyelenggarakan lokakarya self healing untuk para staff dan relawan KAIL. Lokakarya tersebut diselenggarakan di Rumah KAIL, pada hari Sabtu, 4 Februari 2017 pukul 09.00 pagi sampai hari Minggu, 5 Februari 2017, pukul 14.00 sore. Pelatihan ini dihadiri oleh 19 peserta yang terdiri dari 4 staff dan 15 orang relawan KAIL. Mereka terdiri dari 6 laki-laki dan 13 perempuan. Sejumlah 6 relawan pendukung kegiatan pun hadir dan membantu penyelenggaraan. Peserta sangat bersemangat mengikuti seluruh proses pelatihan ini. Mereka menyimak setiap penjelasan, mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan mempraktekkan berbagai metode self healing yang diajarkan dengan sungguh-sungguh.



 
Bertindak sebagai tim trainer dan fasilitator adalah Intan Darmawati (Hunk) dan Alvieni Angelica (Alvie). Selama lokakarya ini mereka memperkenalkan berbagai teknik self healing dari berbagai penjuru dunia yang dikembangkan oleh Capacitar International, sebuah organisasi internasional yang didirikan oleh Patricia Mathes Cane, PhD dan berjejaring di 40 lebih negara. Capacitar berfokus pada pemberdayaan dan solidaritas melalui penyembuhan bagi sesama kita yang menjadi korban perang, kekerasan, kemiskinan maupun bencana.






Metode-metode yang diajarkan selama self healing ini antara lain adalah (1) Tai Chi, (2) Salute to the Sun, (3) Berbagai teknik pemijatan seperti drum massage dan head-neck-shoulder release, (4) Pal Dan Gum, (5) Pain Drain untuk menghilangkan rasa sakit, (6) Polaritas untuk recharging diri, (7) Fingerholds untuk mengelola emosi, (8) Orhiba dari Indonesia, (9) Leadership Dance, (10) Latihan Pernapasan, hingga (11) The Holds. Setelah sesi sore berakhir di hari Sabtu, para peserta mengikuti ramah tamah dengan menghangatkan diri di api unggun sambil menikmati jagung bakar dan bir pletok hangat. Mereka dapat bertukar informasi dan pengalaman agar lebih saling mengenal satu sama lain.



Lokakarya ini dapat terlaksana dengan dukungan para relawan pendukung kegiatan, di antaranya para relawan notulen, foto, video, logistik dan konsumsi. Akhir kata, terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi untuk keberhasilan lokakarya ini.



***

Ayo Buat Sendiri Produk Pembersihmu

Oleh: Tien Widiyaningrum

Seorang ibu rumah tangga mau tidak mau harus bersentuhan dengan berbagai produk pembersih setiap harinya. Mulai dari deterjen, sabun cuci piring, pasta gigi, cairan pel, dan lain sebagainya. Tapi tahukah Anda bahwa produk pembersih yang biasa kita beli di toko-toko terdekat itu tidak semuanya aman?

Produk-produk pembersih itu pada awalnya dibuat untuk memudahkan aktivitas harian. Namun banyak dari kita tidak menyadari bahanya dampak produk komersil berbasis bahan kimia, dari mulai efek jangka panjang bagi kesehatan keluarga dan pencemaran lingkungan akibat proses produksi dan limbah. Atas dasar itulah Botanina bekerjasama dengan Rumah Kail membuat workshop mengenai cara membuat produk pembersih rumah tangga dengan bahan dasar yang cukup mudah kita temui sehari-hari.

Workshop ini dilaksanakan di Rumah Kail pada hari Minggu, tanggal 8 Mei 2016. Acara dimulai sekitar pukul 10.00 hingga pukul 13.00. Workshop diikuti oleh 24 orang peserta dari berbagai daerah dan kalangan, mulai dari mahasiswa sampai ibu rumah tangga. Kali ini Olva dan Tina dari Botanina secara bergiliran menceritakan bagaimana caranya membuat pasta gigi, mouthwash, all purpose cleaner (versi cairan dan versi bubuk), pest & germ control, pembersih kayu, dan cairan pel. Tidak hanya itu, Olva dan Tina pun menjelaskan dengan rinci fungsi dari setiap bahan dasar yang digunakan dalam membuat produk-produk pembersih tersebut.


Antusias peserta cukup tinggi. Banyak dari mereka yang mengajukan berbagai pertanyaan menarik sehingga menghidupkan suasana di dalam workshop. Ada pula salah satu peserta yang anaknya sangat sensitif terhadap produk pembersih komersil sehingga dia begitu bersemangat dalam mengikuti workshop ini. Beberapa peserta workshop berharap mereka bisa mengetahui cara membuat sabun alami. Namun sayangnya karena proses pembuatan sabun cukup rumit dan panjang, Botanina tidak memberikan workshop tersebut. Mungkin di lain waktu Rumah Kail bisa punya kesempatan lagi mengadakan workshop khusus untuk membuat sabun alami bagi para peserta yang masih penasaran. Kita tunggu saja.

[LIPUTAN KEGIATAN] Hari Belajar Kail: Membuat Fermentasi Rumahan : Kombucha dan Kimchi

Oleh: Perswina Alaili

Pembukaan oleh Melly Amalia (KAIL) dan Dhila Baharuddin 
(Tepian Collective).
KAIL (Kuncup Padang Ilalang) mengadakan acara Hari Belajar KAIL pada hari Minggu, 6 Maret 2016 dengan tema Membuat Fermentasi Rumahan: Kombucha dan Kimchi, dengan narasumber Dhila Baharudin (Tepian Collective).

Cuaca pada saat itu mendung, agak gerimis, dan berangin. Peserta mulai berkumpul pukul 09:00, dan acara dimulai sekitar pukul 10.00. Para peserta dibagi menjadi tiga kelompok. Peserta HBK kali ini terdiri atas anak usia 9 tahun hingga ibu-ibu rumah tangga. Dhila membuka acara dengan sejarah pembuatan kimchi di Korea.

Pembuatan Kimchi

Kimchi adalah sayuran dengan campuran berbagai bumbu yang diawetkan melalui metode fermentasi. Kimchi ini biasa dikonsumsi sebagai side dish, dapat dikonsumsi langsung atau dapat dimasak menjadi sup, tumis sayuran, dan lain-lain. Umumnya Kimchi dibuat dari jenis sayuran sawi putih, namun di tempat asalnya Kimchi dibuat dari berbagai jenis sayuran yang terdapat di daerah lokal. Kimchi dapat disimpan dalam waktu yang lama dan berguna untuk memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari.

Fermentasi Kimchi dilakukan dengan memanfaatkan agen biologis seperti bakteri untuk menguraikan berbagai zat di dalam makanan agar lebih mudah dicerna oleh tubuh. Kegiatan membuat Kimchi secara bersama-sama disebut “kimjan”, dan dapat dilakukan untuk mengisi waktu luang sambil berkumpul bersama keluarga.

Dhila menjelaskan bahan-bahan yang diperlukan untuk membuat Kimchikimchi (kiri dan kanan) 
Kimchi biasa dibuat dari berbagai jenis sayuran, namun yang paling populer adalah dari sawi, wortel, dan ketimun. Di Korea, Kimchi utuh dipotong-potong sebelum disajikan sebagai makanan pendamping (side dish) di meja makan. Kimchi juga dapat dimasak kembali sebagai campuran untuk menumis daging sapi, ayam, babi, dan sayuran lainnya, atau bahkan dibuat kuah sup yang bercita rasa pedas dan asam. Mengonsumsi kimchi dapat menyehatkan saluran pencernaan karena kita mengonsumsi bakteri baik saat mengonsumsi kimchi. Serat dan kandungan gizi pada sayuran juga lebih mudah dicerna oleh tubuh karena telah melalui proses fermentasi oleh bakteri. Kimchi juga dapat ditaburi dengan wijen untuk menambah kelezatan. Selain sup dan sayuran, kimchi dapat dibuat menjadi campuran pancake, nasi goreng, atau kimbap (nasi gulung khas Korea).

Bahan-bahan dan peralatan yang dibutuhkan telah disediakan di atas meja-meja. Bahan-bahan untuk mebuat kimchi antara lain sawi putih, wortel, timun, dan bumbu-bumbu yang dibutuhkan seperti kucai, daun seledri, bawang putih, jahe, bawang bombay, dan kecap asin.

Pada saat workshop, peserta menyimpan lembaran kimchi di dalam kotak makanan plastik. Lembaran ini diusahakan ditumpuk dalam keadaan padat. Kimchi dapat langsung dikonsumsi atau disimpan. Dalam 2 hari, kotak makanan yang tertutup rapat akan mengembung sehingga Anda perlu berhati-hati saat membuat dan menyimpan kimchi yang sudah Anda buat.

Membuat Kombucha

Dhila menjelaskan komponen-komponen yang dibutuhkan untuk membuat kombucha (atas),
bibit Scoby (tengah), dan larutan teh yang dicampur dengan gula (bawah)
Selanjutnya, Dhila juga sudah menyiapkan bahan-bahan untuk membuat teh kombucha. Kombucha adalah minuman yang mengandung sangat sedikit alkohol. Minuman ini juga dibuat dengan cara fermentasi. Agen biologis yang digunakan adalah koloni dari bakteri dan jamur yang disebut SCOBY (Symbiotic Culture of Bacteria and Yeast) yang bentuknya berupa lembaran, mirip dengan Nata de Coco. Scoby adalah campuran dari bakteri Acetobacter dengan jamur ragi yang umumnya spesies Brettanomyces bruxellensis, Candida stellata, Schizosaccharomyces pombe, Torulaspora delbrueckii, dan Zygosaccharomyces bailii.

Prinsip pembuatan kombucha adalah membuat larutan dengan gula, kemudian diberi bibit Scoby secukupnya dan difermentasikan selama > 7 hari. Ragi akan mengubahnutrisi dan gula menjadi alkohol dalam jumlah yang sangat sedikit. Bakteri akan memecah ikatan gula dan nutrisi yang terkandung dalam larutan sehingga lebih mudah dicerna oleh tubuh. Inilah alasan mengapa kombucha aman untuk dikonsumsi oleh penderita diabetes, karena glukosa atau fruktosa telah diubah menjadi jenis gula yang lebih mudah dicerna oleh tubuh.

Kombucha dapat juga digunakan sebagai cuka dengan cara disimpan lebih lama hingga mencapai kadar keasaman tinggi. Cuka ini dapat digunakan untuk masakan dan juga bahan pembersih ruangan. Selain kombucha dan cuka, jika Anda penyuka manisan atau acar-acaran, anda juga dapat merendam buah-buahan (atau bahan lainnya seperti kulit jeruk, potongan jahe, dll) yang anda suka di dalam larutan kombucha. Buah-buahan maupun bahan-bahan hasil rendaman ini dapat dikonsumsi dan disajikan dengan gula agar rasanya lebih manis.

Hari Belajar KAIL ditutup dengan makan siang dengan menu kimchi dan sayuran yang telah dibuat oleh peserta sebelumnya. Meskipun cukup singkat dan dengan biaya pendaftaran yang sangat terjangkau/murah, peserta mendapatkan banyak manfaat berupa ilmu dan juga kebahagiaan berbagi dengan peserta yang lainnya. Sampai jumpa di Hari Belajar KAIL edisi selanjutnya!

***

Merajut Yang Mengasyikkan

Merajut itu sulit ga sih? Pertanyaan itu pasti akan muncul di benak setiap orang bila mendengar kata ‘merajut’. Rasa penasaran dan pertanyaan itu berangsur akan berkurang bila kita sudah mencobanya. Bahkan, merajut itu akan membuat ketagihan.  Kenyataannya, kita tidak bisa berhenti menggerakkan tangan untuk terus melanjutkan dan melanjutkan. Itu yang saya alami pasca mengikuti Hari Belajar Kail (HBK). Dan saya mulai merasa merajut itu mengasyikkan. 

Minggu, tanggal 26 April 2015 lalu saya mengikuti Hari Belajar Kail. Temanya adalah Kelas Merajut Sederhana dengan nara sumber Agustein Okamita (Koordinator Divisi Informasi – Kail). Acara dimulai dari jam 10.30 dan diikuti oleh 6 orang peserta.  Mbak Tiitin (begitu biasa dipanggil) menjelaskan beberapa teknik dasar merajut sederhana, mulai dari hakken yang menggunakan satu jarum dan knitting menggunakan dua jarum rajut. Untuk kedua teknik tersebut, ternyata menggunakan jarum yang berbeda.

Target HBK hari ini adalah membuat sarung HP. Awalnya masing-masing peserta belajar menggunakan jarum rajut dan membuat rajutan dasar. Setelah lancar, kemudian kami merajut sesuai dengan tahapan alurnya dan disesuaikan dengan ukuran HP yang diinginkan. Belum terlihat bentuknya, tapi semangat peserta untuk mencoba tidak surut. Sampai tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 13.00 dan perut sudah keroncongan minta diisi.


Akhirnya dengan terpaksa belajar merajut ini dihentikan. Winda, salah satu peserta seperti merasa berat beranjak dari tempat duduknya. Sepertinya masih ada rasa penasaran di wajahnya untuk bisa menyelesaikan rajutan tersebut.  Bagi saya, merajut itu membutuhkan kesabaran, ketelitian dan kreatifitas. Seperti keinginan anak saya, minta dibuatkan bando atau gelang. Mereka terinspirasi dari hasil karya yang dibuat oleh Mbak Titin. Untuk memenuhi harapan anak-anak, sampai di rumah saya coba membuat kembali rajutan tersebut. Meski belum selesai, tapi ini cukup membanggakan diri saya sendiri, bahwa saya bisa merajut. Anggapan selama ini yang tertanam dalam benak saya adalah merajut itu aktivitas perempuan sekali. Ternyata, saya bisa kalau mau belajar. Dan merajut itu memang asyik!

Kami merasa perlu bertemu kembali untuk bisa berbagi dengan teman-teman yang lain.  Bagaimana kelanjutan proses merajutnya, perasaannya saat merajut, pengalaman apa yang didapat dan produk yang dihasilkan. Entah apakah itu bisa difasilitasi atau tidak. Terima kasih Mbak Titin dan Kail. (MA)


***

HARI BELAJAR KAIL: Pelatihan Zat Aditif

Pada tanggal 21 September, KAIL mengadakan pelatihan Zat Aditif. Pelatihan ini diadakan di Rumah KAIL Cigarukgak, Bandung, dan diikuti oleh beberapa peserta yang berasal dari masyarakat sekitar Rumah KAIL dan beberapa aktivis.


Pelatihan yang dipandu oleh Anilawati Nurwakhidin dari Tim YPBB Bandung ini berlangsung dari pukul 10 pagi hingga pukul 12 siang. Acara dimulai dengan pemaparan mengenai zat aditif dan pengaruhnya bagi manusia. Selanjutnya peserta diajak memeriksa zat-zat aditif yang terkandung dalam bahan makanan yang banyak dijual di toko serta melihat apakah pengaruh zat-zat aditif tersebut bagi kesehatan kita.

HARI BELAJAR KAIL: Taplak dari kain perca

Pada tanggal 22 Juni 2014 hari minggu lalu Rumah KAIL kembali diramaikan oleh kegiatan Hari Belajar KAIL. Ada yang istimewa dari agenda rutin KAIL tersebut, yaitu kedatangan tiga orang kawan dari Garage Sale Sekolah Ibu (GSSI). Mereka adalah Aghni sebagai pendiri GSSI, ditemani oleh Dyah dan Dhyta yang berbagi cara membuat taplak dari kain perca kepada ibu-ibu sekitar Kampung Cigarukgak. Sayang karena berbagai hal terkait waktu, hanya sedikit peserta ibu yang datang bergabung. Meskipun begitu, kami tidak patah semangat untuk menghasilkan karya.  Dari Kail, Selly Agustina PJ Hari Belajar KAIL bulan Juni 2014 turut hadir meramaikan suasana.

Setelah acara dibuka dengan perkenalan singkat tentang GSSI, mereka kemudian mengajak peserta membuat karya dari bahan bekas. Ditemani dengan staf KAIL, peserta tekun menjahit kain perca yang sudah digunting berbentuk lingkaran sebelumnya. Teknik menjahit sederhana yaitu jelujur dikerjakan di sekeliling pinggiran kain perca, ditarik dan ditali mati sehingga bentuknya menjadi bulat gembung. Setelah terbentuk banyak, bulatan-bulatan kain kemudian saling disatukan dengan dijahit di sisi bawahnya. Ukuran dapat disesuaikan dengan kebutuhan menjadi taplak meja persegi, lingkaran atau sebagai alas piring. Kami berhasil menyelesaikan satu alas piring sampai menjelang tengah hari. Semua merasa puas dengan karya kolaborasi yang telah dihasilkan dan tidak lupa membawa sebagian kain perca untuk melanjutkan membuat kerya sendiri di rumah masing-masing.





HARI BELAJAR KAIL: Nonton dan Diskusi Film "TEMANI AKU BUNDA" - bersama Irma Winda Lubis

Nonton bareng dan diskusi film @ Rumah KAIL

"Saya dimarahi dan dimusuhi teman-teman di sekolah. Kata teman-teman, guru-guru jadi kena masalah gara-gara saya. Padahal saya cuma bicara jujur. Kata ayah dan bunda, kita harus selalu jujur." (Abrar)

Film dokumenter ini berkisah tentang perjalanan seorang anak dalam menghadapi ujian nasional (UN) di bulan Mei 2011. Dua hari sebelum UN, Abrar diminta gurunya ikut dalam kesepakatan bersama dalam kelas, bahwa mereka boleh kerjasama dan saling bertukar jawaban soal ujian tanpa memberitahu siapapun, termasuk orang tua. Artinya, Abrar dan teman-temannya disuruh berbuat curang. Bagaimana sikap Abrar? Bagaimana tanggapan orang tuanya ketika mengetahui hal ini? Sampai di mana perjuangan Irma Winda Lubis (Winda), ibunda Abrar menghadapi persoalan ini?

Film ini diputar di penghujung rangkaian UN 2014 untuk siswa-siswi SD-SMU untuk mengingatkan bahwa di zaman sekarang ini, nilai-nilai luhur, seperti kejujuran sangat mahal harganya. Sebagai orang tua, kita dapat mengambil peran penting untuk membantu anak-anak kita, generasi penerus bangsa ini, untuk menerapkan nilai-nilai tersebut. Proses tersebut tidak sekedar hanya dikatakan, tetapi juga dicontohkan lewat tindakan-tindakan kita. Penerapan nilai lebih efektif diberikan melalui perilaku, dan akan hilang maknanya bagi anak-anak, jika hanya ada dalam perkataan hafalan, tetapi pada prakteknya ternyata bertolak belakang, Ketika hal tersebut terjadi anak-anak akan menghadapi dilema (dan bahkan sampai stress dan trauma), yang kemungkinan besar akan berpengaruh pada masa depannya kelak.

Kita hidup di dalam sistem yang sama sekali tidak ideal. Banyak kekurangan terjadi di dalam sistem yang kita tinggali bersama kini. Begitu banyak PR panjang untuk membangun dunia yang lebih baik perlu dilakukan di berbagai sektor, termasuk sektor pendidikan. Kita perlu bahu membahu menciptakan lingkungan yang kondusif agar anak-anak kita dapat berkembang menjadi dirinya dengan potensinya yang terbaik. Salah satu lingkungan yang kondusif adalah menyediakan ruang bagi anak untuk mengekspresikan dirinya secara jujur dan hanya dengan begitu mereka dapat menjadi dirinya yang sejati. Kita orang-orang dewasa bertanggung jawab untuk memastikan tersedianya ruang-ruang tersebut.

Itulah pokok bahasan diskusi setelah nonton bersama di Rumah KAIL pada hari Minggu tanggal 1 Juni 2014 yang lalu. Nonton film bareng ini dipandu oleh Dhitta Puti Sarasvati, relawan KAIL dari Jakarta dibantu oleh Deta, relawan KAIL dari Bandung. Sekitar 25 orang dari berbagai komunitas, mitra dan individu menghadiri kegiatan ini. Mereka sangat antusias menonton bersama dan berdiskusi setelah nonton bersama tersebut. Semula kegiatan ini dijadwalkan berakhir pada jam 12 siang. Ternyata proses diskusi terus berlanjut sampai sudah jauh melewati jam makan siang. Diskusi formal terpaksa dihentikan dahulu dan kemudian akan dilanjutkan dengan diskusi informal sambil makan siang dan beres-beres sampai jam 3.30 sore.

Banyak pelajaran yang diperoleh seluruh peserta kegiatan ini. Mudah-mudahan inisiatif yang sudah dikerjakan ini dapat bermanfaat bagi mereka-mereka yang membutuhkannya.

 ***

HARI BELAJAR KAIL: Membuat Map dari Kardus dan Kain Bekas



Pada tanggal 15 Mei 2014 yang lalu diadakan lokakarya pembuatan map dari kardus dan kain bekas di Rumah KAIL. Lokakarya ini dipandu oleh Navita Kristi Astuti (Vita) dari Arumanis Craft dan dihadiri oleh ibu-ibu warga sekitar Rumah KAIL. Lokakarya ini berlangsung dari jam 9 pagi sampai jam 12 siang. Selama lokakarya semua peserta menghasilkan karya berupa map aneka warna dan ukuran sesuai dengan kreativitas peserta.


HARI BELAJAR KAIL: Arpillera untuk Perubahan

Pada hari Minggu, tanggal 27 April 2014, KAIL kembali mengadakan workshop Hari Belajar KAIL (HBK). Tema kali ini adalah Arpillera (seni untuk perubahan). Sejak pagi, Rumah KAIL yang berlokasi di kampung Cigarukgak Kabupaten Bandung sudah dipenuhi oleh ibu-ibu rumah tangga yang berasal dari sekitar tempat itu, Mereka antusias mengikuti workshop yang digelar rutin sebulan sekali itu. Sekitar 10 ibu rumah tangga sudah berkumpul sambil duduk lesehan ditemani rumpian segar. Terlihat peralatan menjahit seperti jarum, benang, gunting dan kain perca sudah ditata rapi di ruangan. 
Acara kemudian dibuka oleh Melly, koordinator HBK. Setelah pembukaan, acara dilanjutkan dengan penjelasan tentang apa itu arpillera oleh Selly yang juga staf KAIL dari divisi kreatif. Penjelasan dimulai dengan sejarah awal mula kelahiran arpillera yaitu sebagai bentuk protes dari ibu-ibu yang suami dan saudara lelakinya menjadi korban kekerasan Jenderal Auguste Pinochet dari Chile. Selain itu arpillera berguna pula sebagai media trauma healing, penyampaian pesan, dan penyaluran perasaan. Bedanya arpillera dengan seni menjahit perca lainnya yaitu terletak pada makna yang dikandung dalam karya yang dibuat sang kreator.

Setelah penjelasan singkat tentang arpillera, Selly kemudian mengajak ibu-ibu untuk langsung praktek membuat karya seni perca untuk perubahan tersebut. Tidak perlu keahlian menjahit khusus dalam membuat arpillera, hanya kemauan, ketelitian dan kesabaran dalam membuatnya. Pekerjaan menjahit bukanlah hal yang asing bagi ibu-ibu. Terlihat mereka sangat bersemangat menuangkan gagasan ke dalam desain di kain, membentuk pola dan kemudian menjahitnya dengan sabar. Hanya satu kesulitan yang mereka hadapi, yaitu kemampuan untuk memasukkan benang ke dalam lubang jarum yang sangat kecil. Maklum beberapa ibu sudah termasuk sepuh. 
Dua jam pun berlalu tidak terasa. Sebelum acara selesai, Melly mengajak para ibu untuk berbagi cerita tentang makna dan pesan apa yang terdapat di masing-masing karya arpillera peserta. Kebanyakan dari mereka menggambarkan pemandangan desa yang penuh pepohonan ataupun berbagai hal feminin terkait keseharian mereka sebagai ibu. Meskipun beberapa peserta terlihat malu-malu untuk bercerita tapi tetap terasa ada rasa bangga dari mereka. 
Terakhir, acara ditutup dengan foto bersama semua peserta dan staf KAIL.

HARI BELAJAR KAIL: Zerowaste Lifestyle Workshop - Maret 2014

Pelatihan Gaya Hidup Ramah Lingkungan untuk Warga Kampung Cigarugak


Dua puluh dua orang ibu-ibu dari Kampung Cigarugak menghadiri undangan KAIL untuk mengikuti pelatihan tentang Gaya Hidup Ramah Lingkungan di Rumah KAIL,Minggu, 23 Maret 2014. Pelatihan ini merupakan kegiatan perdana dari rangkaian kegiatan yang diselenggarakan KAIL di Rumah KAIL di Kampung Cigarugak untuk warga sekitar.

Pelatihan ini mengulas berbagai permasalahan seputar sampah di kota Bandung, berbagai penyebab dan usulan penyelesaiannya. Dalam sesi awal tim trainer menggambarkan banyaknya sampah yang dihasilkan oleh warga Bandung dengan membandingkan volume sampah yang dihasilkan pertahun dengan besarnya Candi Borobudur, yaitu sebanyak 55 kali.  Sampah sebanyak itu kemudian diangkut ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dengan biaya Rp. 30 juta per hari ketika TPAnya masih di Leuwigajah dan Rp. 100 juta per hari ketika TPA dipindahkan ke TPA Sari Mukti.

Para peserta diajak membayangkan betapa banyaknya sampah yang dihasilkan tersebut dan diajak melihat video mengenai kondisi TPA Leuwi Gajah. Tim trainer juga menunjukkan berbagai masalah yang ditimbulkan akibat sampah, di antaranya bau dan pemandangan tak sedap, berbagai penyakit dan kerusakan alam. Peserta juga diajak untuk membayangkan apa yang dapat dilakukan dengan uang yang tadinya digunakan untuk mengangkut sampah.

Tim trainer kemudian menawarkan dua penyelesaian mulai dari diri sendiri yang jika dilakukan oleh semua warga Bandung, maka 70% persoalan sampah dapat diselesaikan. Salah satu caranya adalah dengan mengkompos sampah yang berasal dari bahan-bahan organis. Proses mengkompos dapat dilakukan dengan beberapa cara. Bagi mereka yang memiliki lahan, mereka dapat membuat lubang kompos di halaman rumah mereka. Bagi mereka yang tidak memiliki lahan, mereka dapat menggunakan keranjang Takakura untuk membuat kompos di dalam ruangan. Jika seluruh bahan organis terkompos, maka 50% dari seluruh masalah sampah kota Bandung dapat diselesaikan.

Hal kedua yang disarankan adalah menggunakan kembali bahan-bahan non organis yang kita hasilkan. Kalaupun sudah tidak digunakan kembali kita dapat memberikannya kepada pemulung atau mereka yang masih membutuhkannya. Jika hal ini dilakukan oleh seluruh warga Bandung, maka 20% dari masalah sampah di kota Bandung dapat kita selesaikan.

Hal yang juga penting adalah pemisahan sampah oleh pengguna sejak awal. Sampah organis dan non organis jangan sampai tercampur kemudian baru dipisahkan kembali. Jika sudah terlanjur tercampur, maka akan membutuhkan waktu untuk memisahkan kembali. Di tambah lagi jika sampah non organis tercampur dengan sampah organis yang telah membusuk, maka selain membutuhkan waktu, maka ada bau dan tampilan tidak sedap yang harus dihadapi ketika memilah.

Yang juga tidak kalah penting adalah pemilihan produk yang kita gunakan. Semakin sedikit sampah yang kita hasilkan, semakin sedikit dampak yang kita hasilkan terhadap alam. Hal-hal yang dapat dilakukan untuk hal ini antara lain: membawa botol minum sendiri, membawa wadah sendiri ketika berbelanja dan menghindari penggunaan produk berkemasan. Pelatihan ditutup dengan memberi kesempatan kepada para peserta untuk membuat komitmen pribadi untuk penyelesaian masalah sampah mulai dari rumah masing-masing.

Pelatihan ini diselenggarakan atas kerjasama KAIL dengan YPBB, Bandung. Pada pelatihan ini YPBB menurunkan 3 orang tim trainer Zero Waste, yaitu: RahyangNusantara, Jessisca Fam,  Anilawati Nurwakhidin dan para relawan pendukung, yaitu Eli Ermawati dan Rikrik Sunaryadi.

Belajar Membuat Sabun Sendiri

Pada hari belajar KAIL, tanggal 20 bulan Desember 2013 yang lalu, KAIL kedatangan seorang ibu dari GSSI yang biasa dipanggil dengan sapaan Teh Santi. Beliau menjadi narasumber yang memperagakan cara membuat sabun sendiri. 

Antusiasme dari para peserta yang kebanyakan adalah ibu-ibu juga, membuat suasana belajar menjadi semarak. Sabun-sabun dicetak ke dalam gelas plastik, sementara Teh Santi sudah menyiapkan sabun-sabun berbentuk cangkang kerang yang dibagi-bagikan kepada peserta setelah selesai acara.




Tim KAIL lengkap menghadiri kegiatan Hari Belajar KAIL di penghujung tahun 2013 ini, Melly Amalia, Navita Astuti, David Ardes, Selly Agustina, dan Any Sulistyowati. Bersama dengan anak-anak yang belajar tentang membuat keju, suasana di Urban Center YPBB yang terletak di Jl. Sidomulyo no 21 terasa ramai dan riang. Kegiatan yang dimulai pada pukul 14.00 WIB ditutup pada pukul 16.30 WIB, namun masih ada orang-orang yang bercengkrama dan bertukar pikiran.