[INFO KEGIATAN] Hari Ulang Tahun Kail ke-13 dan HUT Kemerdekaan RI ke-70

Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun KAIL ke-13 dan HUT Kemerdekaan RI ke-70, Kuncup Padang Ilalang (KAIL) akan mengadakan kegiatan sebagai berikut:

  • Bazaar Murah Perlengkapan Sekolah, Buku dan Mainan Anak (khusus untuk warga Cigarugak dan sekitarnya)
  • Pojok Permainan Anak (untuk umum)
  • Perpustakaan Anak dan Ibu (untuk umum)

Kegiatan ini akan diadakan pada

Hari/Tanggal: Minggu, 9 Agustus 2015
Waktu: Pk14.00-16.30WIB
Tempat: Rumah Kail, Kampung Cigarugak, Desa Girimekar, Kec. Cilengkrang, Kab Bandung.
Peta lokasi: http://bit.ly/1RvPkRw

Untuk informasi lebih lanjut mengenai kegiatan ini dan bagi yang berminat untuk menjadi relawan kegiatan, silakan hubungi Deta (kail.kerjasama@gmail.com atau HP 081809977225)

Berikut adalah poster undangan kegiatan untuk Warga Cigarugak.



[INFO KEGIATAN] Hari Belajar Anak: Mendengarkan Dongeng dan Bermain Permainan Papan

Yuk, mendengarkan dongeng dan bermain permainan papan, pada Hari Belajar KAIL,
Minggu, 28 Juni 2015
Pk. 10.00-12.00
Di Rumah KAIL, Kampung Cigarugak, Desa Girimekar, Kec. Cilengkrang, Kab. Bandung. Peta lokasi: http://bit.ly/1RvPkRw



Kontribusi Rp5000/anak
Contact person: Deta Ratna Kristanti, 0818 0997 7225 (SMS/WA)

Menonton Film Whispers dan Berkarya di Rumah KAIL

Hari Minggu, 31 Mei 2015, anak-anak kembali berkumpul di Rumah KAIL untuk mengikuti Hari Belajar Anak (HBA) bulan Mei. Kegiatan kali ini adalah menonton film “Whispers”, yang menceritakan kehidupan seekor gajah bernama Whispers sejak baru lahir hingga menjadi gajah dewasa. Beberapa anak Cigarukgak antusias sekali, sampai-sampai mereka sudah tiba di Rumah KAIL sebelum jam 9 pagi. Padahal kegiatan baru akan dimulai pukul 10 pagi. Menjelang pukul 10, anak-anak Cigarukgak berdatangan. Tapi, tunggu dulu! Rupanya tidak hanya anak-anak Cigarukgak yang ingin mengikuti kegiatan di Rumah KAIL pada hari ini. Ada anak-anak lain yang datang dari Giri Mekar Permai, dari Cihampelas, Cibiru dan bahkan ada kakak beradik yang jauh-jauh datang dari Soreang untuk ikut kegiatan HBA ini. Asyik, tambah banyak teman!


Mendekati pukul 10, kakak-kakak relawan KAIL terlihat sibuk menyiapkan cat poster aneka warna di dalam baki-baki kecil. Wah…, untuk apa ya? Anak-anak yang sudah ramai berkumpul agak penasaran. Tapi kakak-kakak relawan tidak mau memberitahu dulu. Masih RAHASIA, kata mereka. Meskipun tambah penasaran, tapi anak-anak bisa menunggu dengan sabar.

Pukul 10 tepat, Kak Deta mengajak anak-anak untuk berkumpul di depan Rumah KAIL. Wah, peserta HBA kali ini cukup banyak, 24 orang anak dengan beragam usia dan tempat tinggal. Kak Deta mengajak anak-anak bergandengan tangan membuat lingkaran yang sangat besaaaar, yang besar dan yang keciiil. Sesekali Kak Deta mengingatkan anak-anak untuk berhati-hati dan memperhatikan teman di sebelahnya. Setelah bermain membuat lingkaran, kak Deta lalu menjelaskan kegiatan yang akan dilakukan anak-anak.




Sebelum menonton film, anak-anak diajak berkarya membuat cap tangan di kain. Rupanya itulah guna cat aneka warna yang sudah dipersiapkan tadi. Anak-anak dipersilahkan mencelupkan telapak tangan mereka pada baki berisi cat, kemudian menempelkannya pada kain belacu yang sudah disediakan. Mereka boleh mencapkan telapak tangan mereka berkali-kali dengan warna-warna yang berbeda. Ada anak-anak yang awalnya masih ragu-ragu, sehingga sangat berhati-hati memasukkan telapak tangan ke dalam baki berisi cat, ada juga yang dengan bersemangat langsung mencoba. Beberapa menit kemudian, semua anak sudah asyik membuat cap tangan sampai kain penuh.
Setelah kain penuh, Kakak meminta anak-anak melakukan satu tugas berpasangan. Tugasnya adalah mengecapkan tangan mereka di kertas yang Kakak bagikan. Satu tangan dicapkan di kertas sendiri, dan satu tangan lagi dicap di kertas teman. Jadi setiap anak mempunyai dua cap tangan di dalam kertas mereka, satu milik mereka, dan satu lagi milik teman mereka. Setelah melakukan tugas dari Kakak, teman-teman mencuci tangan dan bersiap menonton.

 

Film Whispers diawali dengan cerita bayi gajah Whispers yang baru lahir dari seorang ibu gajah bernama Hati Lembut. Ternyata, untuk melahirkan seekor anak gajah, ibu gajah harus mengandung selama 2 tahun! Selanjutnya, film ini mengisahkan kehidupan dan perjalanan Whispers di hutan Afrika. Durasi film Whispers ini cukup panjang, sekitar satu jam lebih. Kebanyakan anak belum dapat duduk tenang menonton selama satu jam. Jadi banyak anak yang sambil menonton bolak balik mengambil minum, ke toilet atau bercakap-cakap dengan teman. Tapi, ada juga anak-anak yang antusias memperhatikan dari awal sampai akhir cerita.

Setelah film selesai, rupanya kegiatan HBA hari ini belum berakhir. Kakak membagikan kertas berisi cap tangan anak-anak yang catnya sudah kering. Anak-anak disediakan crayon dan spidol, lalu mereka menciptakan gambar gajah dari cap tangan di kertas masing-masing. Bagaimana caranya ya? Kak Deta mulai membuatnya terlebih dahulu dan menunjukkannya pada anak-anak. Tapi tentu saja itu karya Kakak. Anak-anak boleh berkreasi sebebas-bebasnya di dalam kertas gambar mereka.
Setelah anak-anak menyelesaikan gambar mereka, masing-masing anak dengan karyanya difoto oleh Kak Alfred. Hasil karyanya keren-keren lho. Sesudah difoto, anak-anak dipersilahkan mencuci tangan dan makan snack (hari ini snacknya bakpao berisi kelapa dan gula merah J) yang sudah disediakan Ibu Melly. Setelah makan snack, anak-anak pun berpamitan pulang.





Terima kasih untuk semua yang sudah hadir! Bulan depan kita berkegiatan bersama lagi ya! (DRK)

[INFO KEGIATAN] Hari Belajar Anak: Nonton Film dan Berkarya

Menonton Film Whispers, an Elephant's Tale, dan Berkarya
Hari: Minggu, 31 Mei 2015
Waktu: Pukul 10.00 - 12.00 WIB
Tempat: Rumah KAIL
Kampung Cigarukgak, Desa Giri Mekar
Kec. Cilengkrang, Kab. Bandung



Kontribusi: Rp10.000,-/anak (sudah termasuk snack sehat dan bahan berkarya)

Pendaftaran: 0821 2725 3087

Merajut Yang Mengasyikkan

Merajut itu sulit ga sih? Pertanyaan itu pasti akan muncul di benak setiap orang bila mendengar kata ‘merajut’. Rasa penasaran dan pertanyaan itu berangsur akan berkurang bila kita sudah mencobanya. Bahkan, merajut itu akan membuat ketagihan.  Kenyataannya, kita tidak bisa berhenti menggerakkan tangan untuk terus melanjutkan dan melanjutkan. Itu yang saya alami pasca mengikuti Hari Belajar Kail (HBK). Dan saya mulai merasa merajut itu mengasyikkan. 

Minggu, tanggal 26 April 2015 lalu saya mengikuti Hari Belajar Kail. Temanya adalah Kelas Merajut Sederhana dengan nara sumber Agustein Okamita (Koordinator Divisi Informasi – Kail). Acara dimulai dari jam 10.30 dan diikuti oleh 6 orang peserta.  Mbak Tiitin (begitu biasa dipanggil) menjelaskan beberapa teknik dasar merajut sederhana, mulai dari hakken yang menggunakan satu jarum dan knitting menggunakan dua jarum rajut. Untuk kedua teknik tersebut, ternyata menggunakan jarum yang berbeda.

Target HBK hari ini adalah membuat sarung HP. Awalnya masing-masing peserta belajar menggunakan jarum rajut dan membuat rajutan dasar. Setelah lancar, kemudian kami merajut sesuai dengan tahapan alurnya dan disesuaikan dengan ukuran HP yang diinginkan. Belum terlihat bentuknya, tapi semangat peserta untuk mencoba tidak surut. Sampai tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 13.00 dan perut sudah keroncongan minta diisi.


Akhirnya dengan terpaksa belajar merajut ini dihentikan. Winda, salah satu peserta seperti merasa berat beranjak dari tempat duduknya. Sepertinya masih ada rasa penasaran di wajahnya untuk bisa menyelesaikan rajutan tersebut.  Bagi saya, merajut itu membutuhkan kesabaran, ketelitian dan kreatifitas. Seperti keinginan anak saya, minta dibuatkan bando atau gelang. Mereka terinspirasi dari hasil karya yang dibuat oleh Mbak Titin. Untuk memenuhi harapan anak-anak, sampai di rumah saya coba membuat kembali rajutan tersebut. Meski belum selesai, tapi ini cukup membanggakan diri saya sendiri, bahwa saya bisa merajut. Anggapan selama ini yang tertanam dalam benak saya adalah merajut itu aktivitas perempuan sekali. Ternyata, saya bisa kalau mau belajar. Dan merajut itu memang asyik!

Kami merasa perlu bertemu kembali untuk bisa berbagi dengan teman-teman yang lain.  Bagaimana kelanjutan proses merajutnya, perasaannya saat merajut, pengalaman apa yang didapat dan produk yang dihasilkan. Entah apakah itu bisa difasilitasi atau tidak. Terima kasih Mbak Titin dan Kail. (MA)


***