Menyembuhkan diri sendiri dengan Trauma Tapping Technique


Satu per satu peserta lokakarya KAIL Trauma Tapping Technique berdatangan ke Simpul Space BCCF-Galeri Padi di jalan Dago 329 melakukan registrasi. Pagi ini rencananya acara yang akan dimulai pukul 09.00 WIB menjadi sedikit mundur jam 09.15 WIB sambil menunggu peserta yang datang. Lokakarya ini diadakan untuk menyebarkan pengetahuan yang baik bagi semua orang, khususnya para akvitis. Kerja-kerja aktivis membutuhkan banyak sekali energi untuk mencapai perubahan yang dicita-citakan sementara realitas yang kita hadapi sehari-hari memicu munculnya emosi negatif. Kemampuan membebaskan diri dari emosi negatif akan memampukan kita untuk memiliki energi positif yang cukup untuk memperjuangkan visi-misi hidup kita. 

Acara pertama diisi dengan permainan Jempol Ajaib untuk mencairkan suasana, dilanjutkan dengan perkenalan dari KAIL dan masing-masing peserta. Ada beberapa wajah lama yang secara rutin mengikuti kegiatan KAIL, tapi ada juga peserta yang baru seperti Maria Domenica dari Sanggar Anak Alam yang sedang melanjutkan studinya di Bandung. Narasumber kali ini adalah Isak Stoddard, seorang pemuda berkebangsaan Swedia, dengan fasilitator KAIL David Ardes, yang juga mempunyai ketertarikan dengan Teknik Tapping ini. Sebagai pengantar David menjelaskan tentang apa itu trauma, penyebabnya dan bagaimana mengatasinya. Peserta diajak untuk menggambarkan grafik kehidupannya, apakah pernah mengalami trauma dan pada saat kapan trauma itu terjadi. Dilanjutkan dengan presentasi materi Teknik Tapping, perbedaannya dengan EFT (Emotional Freedom Technique) dan simulasi Tapping. 

Tapping adalah sebuah teknik untuk menetralisir energi negatif yang ada dalam diri kita yang ditimbulkan oleh emosi-emosi buruk. Caranya adalah dengan mengetuk titik tertentu pada tubuh kita. Secara prinsipil, titik-titik yang diketuk mengacu kepada titik akupunktur seperti pada akupunktur. Penguasaan teknik ini akan membantu kita membebaskan diri dari emosi negatif. Lebih jauh lagi, kita bisa membantu orang-orang di sekitar kita yang mengalami trauma. Kita bisa mengajarkan kepada orang lain tentang tapping ini karena tidak memiliki efek samping dan yang paling utama adalah mudah untuk dilakukan (praktis) dan tidak memerlukan waktu yang lama. 

Setelah simulasi, peserta dibagi menjadi kelompok kecil dan mencoba praktek di dalam kelompok dengan peran bergantian, sebagai klien yang melakukan tapping-observer. Apa saja pengalaman dan perasaan peserta? Ini menjadi diskusi yang menarik dan dituangkan ke dalam sesi tanya jawab serta berbagi cerita. Ada peserta yang memang pernah mengalami trauma atau fobia terhadap sesuatu, ada juga yang memang ingin belajar tapping untuk menyembuhkan diri sendiri.

Sesi terakhir, peserta melakukan relaksasi pijat dengan melakukan senam Do-In, yang difasilitasi oleh Isak. Relaksasi dilakukan mulai dari jari tangan, kepala, punggung, paha sampai ke ujung kaki. Sangat menyegarkan dan membuat semangat kembali. Di setiap penghujung acara selalu ada momen poto bersama. Dengan arahan potografer cilik, Quinira, pose poto diambil dengan gaya yang cukup unik dan sangat menarik, yaitu gaya tapping. Wow, cantik sekali senyum di wajah para peserta.

Tentang narasumber, Isak saat ini bekerja di CEMUS, Uppsala Center for Sustainable Development Universitas Uppsala, Swedia. Di Swedia Isak banyak bekerja dengan kaum muda, khususnya mahasiswa dan merumuskan proses belajar bersama seputar isu pembangunan berkelanjutan. Meski pernah tinggal di Lembang, Bandung, selama tiga bulan untuk melakukan riset tentang biogas bersama YPBB tapi Isak bisa juga berbicara dalam bahasa Indonesia meski sedikit-sedikit.

Semoga teknik tapping ini dapat bermanfaat dan membantu para aktivis agar hidup lebih efektif untuk mencapai visi pribadi dan mewujudkan perubahan bagi sekelilingnya. Salam.



(Melly)

Lokakarya Manajemen Keuangan Pribadi

Sabtu, 10 Maret 2012, KAIL mengadakan lokakarya tentang manajemen keuangan pribadi yang difasilitasi oleh Any Sulistyowati bertempat di BCCF, Galeri Padi, Dago. Lokakarya ini bertujuan mengajak para peserta untuk mengelola keuangan sehari-hari mereka, meningkatkan kesadaran dalam penggunaan uang. Karena sering dijumpai penggunaan uang itu berlangsung secara tidak sadar, sehingga cukup banyak orang selalu merasa kekurangan uang. Acara dimulai pada pukul 9.30 WIB setelah menanti kedatangan beberapa peserta. Beberapa peserta itu adalah Dida, Nunu, Teh Yeni.

Kegiatan diawali dengan perkenalan di antara peserta, saling menyebutkan nama dan aktivitas rutin yang sedang dijalani akhir-akhir ini serta alasan kedatangan di lokakarya ini. Teh Yeni adalah ibu rumah tangga yang tinggal di komplek PPR-ITB Dago, Dida adalah mantan pengajar di Sanggar Anak Alam yang pindah ke Bandung beberapa bulan ini, dan Nunu tercatat sebagai mahasiswi tingkat 6 di Universitas Kristen Maranatha. Tidak hanya mereka yang berproses dalam lokakarya ini, staf KAIL turut meramaikan suasana dengan belajar bersama. David, Selly, dan Melly bergabung bersama peserta untuk memahami tentang manajemen keuangan pribadi.

Kemudian para peserta mendapatkan satu paket form berisi tabel tentang alokasi pengeluaran. Tabel tersebut membantu para peserta untuk mengevaluasi seluruh pengeluaran rutin yang dimiliki, paling tidak 1 bulan terakhir ini. Para peserta cukup terkejut mendapati angka besaran pengeluaran yang mereka miliki, yang selama ini mungkin belum pernah dihitung. Sementara reaksi terhadap itu berbeda-beda. Para peserta kemudian mengelompokkan pengeluaran-pengeluaran tersebut ke dalam pos-pos yang telah disediakan dan mendapati proporsi tujuan pengeluaran rutin mereka. Setelah itu, mereka membuat perencanaan keuangan pribadi dalam rangka menghemat pengeluaran, kemudian dibagikan ke dalam kelompok.

Di sesi siang, fasilitator mengajak para peserta untuk melihat makna uang bagi diri mereka, apakah yang mereka rasakan terhadap uang. Berbagai opini diutarakan tentang uang, dari cara penggunaan sampai dengan kecenderungan yang ditimbulkan oleh uang. Ada pesimisme yang terasa mengenai uang ini, seolah-olah telah menguasai manusia. Kemudian para peserta diajak untuk memikirkan apa yang bisa diperbuat dengan uang, bahwa sebagai produk yang diciptakan oleh manusia sesungguhnya ditujukan bagi kesejahteraan manusia itu sendiri. Peserta berefleksi tentang bagaimana seharusnya uang dipergunakan dalam kehidupan manusia, untuk membantu memperkuat refleksi tersebut, fasilitator memberikan tugas kepada para peserta untuk mencari informasi terhadap alat tukar alternatif yang dapat menggantikan fungsi uang.

Di sela-sela kegiatan, para peserta dan fasilitator berfoto bersama di rerumputan, terletak di halaman depan Galeri Padi. Pukul 17.00 adalah saat di mana semuanya berpisah dan pulang ke tempat masing-masing, siap untuk menerapkan pengetahuan yang baru saja didapat.
(DAS)

Arpillera hadir di Bandung - episode 2

KAIL mengadakan pelatihan lanjutan arpillera menyambung kegiatan arpillera pertama yang telah diselenggarakan pada tanggal 30 Oktober 2011 kemarin. Tujuan kegiatan arpillera kali ini seyogyanya adalah berbagi cerita di antara para peserta mengenai arpillera yang mereka buat. Selang 1 bulan kegiatan arpillera yang terakhir, arpillera yang dibuat mulai memperlihatkan bentuknya.

Rencana awal, kegiatan hari ini hendak diisi juga dengan menonton film tentang sejarah arpillera yang berawal di Chili sebagai gerakan yang digunakan untuk melakukan perlawanan tanpa kekerasan terhadap pemerintahan junta militer Augusto Pinochet. Adanya beberapa kendala teknis yang tak terhindarkan, maka acara menonton ini harus ditunda untuk pertemuan arpillera berikutnya di bulan Januari nanti. Dibarengi dengan adanya 2 peserta baru yang bergabung dalam kegiatan arpillera ini, maka acara hari ini diawali dengan membuat arpillera bagi yang sudah selesai dan menyelesaikan arpillera bagi yang belum. Selama kurang lebih 2 jam, para peserta mengerjakan arpillera dalam riuh rendah suasana di mana ada yang saling bertukar cerita atas hidup sehari-hari dan ada yang begitu senyap karena terkonsentrasi mengerjakan arpillera (mungkin karena tidak biasa menjahit). Ternyata pengerjaan arpillera telah melebihi 2 jam karena para peserta terhanyut dalam kegiatan jahit-menjahit ini.

Setelah hampir 2,5 jam mengerjakan arpillera, kegiatan pun dilanjutkan dengan bertukar cerita tentang arpillera yang telah dibuat. Para peserta cukup kagum dengan dua ibu-ibu peserta yang telah membuat 3 buah arpillera dalam kurun waktu satu bulan ini (tentunya juga kagum dengan karya arpillera yang telah dibuat). Tujuan bertukar cerita ini adalah untuk mengantarkan peserta kepada makna arpillera sebagai media penyampaian pesan. Persepsi yang berbeda-beda mampu memberikan nilai yang kaya terhadap sebuah karya arpillera seseorang. Maksud yang hendak disampaikan oleh sang pembuat mungkin ditangkap sedikit berbeda atau berbeda sama sekali bagi yang melihatnya.

Akhirnya, pada pukul 17.30 WIB acara pun ditutup dan para peserta kembali ke tempatnya masing-masing.

Acara kali ini diikuti oleh sekitar 12 orang, termasuk KAIL yang menjadi penyelenggara. Melly Amalia mempersiapkan berbagai hal, termasuk mengatur ruangan, dari pukul 11.30 WIB dibantu oleh David Ardes. Any Sulistyowati menjadi fasilitator utama dalam pertemuan arpillera kali ini.

Sampai jumpa di pertemuan arpillera berikutnya!

Yoga Sebagai Upaya Pembangunan Berkelanjutan





Tanggal 18 Desember 2011 merupakan hari yang ditunggu-tunggu oleh sebagian besar teman-teman KAIL. Ada apakah? Karena di tanggal tersebut KAIL telah kedatangan salah seorang teman yang sekaligus sebagai instruktur Yoga, yaitu Nirmala Nair. Selain instruktur Yoga, Nirmala Nair yang berkebangsaan India ini juga menjadi Direktur ZERI Afrika Selatan. Cukup banyak peserta yang tertarik dan hadir mengikuti acara ini, karena memang topik yang disuguhkan sangat berbeda dari kegiatan KAIL sebelumnya. Peserta yang berjumlah 22 orang terdiri dari staf, associate, alumni pelatihan dan teman-teman KAIL. Pelatihan Yoga dilaksanakan di rumah Puti, Kompleks PPR ITB, Dago Bengkok Bandung dengan fasilitator David Ardes dan Any Sulistyowati, dimulai dari pukul 08.30 – 17.00 WIB.
Acara dimulai dengan perkenalan dan motivasi mengikuti pelatihan yoga. Setelah itu masuk ke materi inti, pemaparan Nirmala tentang apa itu yoga, mengapa kita perlu melakukan gerakan yoga dan manfaatnya untuk kesehatan tubuh. Kemudian peserta praktek melakukan latihan pernafasan dan gerakan dasar yoga dengan penuh konsentrasi. Diskusi hangat tentang materi harus terputus karena rehat makan siang. Sajian makan siang adalah menu sehat yang tidak memakai zat aditif dan pengawet.

Sesi selanjutnya diisi dengan materi yang tak kalah menariknya yaitu teknik dasar pernafasan dan meditasi. Dilanjutkan dengan wawasan yang menghubungkan antara yoga, makanan dan pembangunan berkelanjutan. Tak lupa menampilkan contoh jenis tumbuhan lokal (termasuk rempah-rempah) yang bisa dijadikan sebagai tanaman obat alam yang sangat bermanfaat untuk kesehatan. Acara ditutup dengan pemberian souvenir berupa baju KAIL yang langsung dipakai oleh Nirmala dan tak ketinggalan foto bersama.



Mengenal sosok Nirmala Nair, akan membuka mata dan hati kita untuk mencoba belajar hidup selaras dengan alam. Membuka pikiran kita bahwa apa yang kita lakukan akan membawa pengaruh ke lingkungan di sekitar kita. Membuka langkah kita, apa yang sebaiknya harus kita lakukan untuk menjaga agar bumi ini tetap seimbang. Mencerahkan kita dalam berproses untuk mencari makna pembangunan berkelanjutan.

Nirmala yakin bahwa pembangunan yang berpusat pada hati adalah jawaban yang memungkinkan hubungan antara diri kita yang sejati dengan dunia luar, yang harus dimulai dari cara kita menggunakan tubuh kita. Sangat puas berproses hari ini. Terima kasih Nirmala telah berbagi dengan kami.

Membuat Buku Agenda 2012



Tanggal 11 Desember  2011 merupakan pertemuan kedua KAIL Support Group angkatan pertama, di rumah Lafiza Fidina, salah satu alumni pelatihan KAIL. Pertemuan ini dihadiri oleh 8 orang yang terdiri dari fasilitator dan peserta. KAIL Support Group adalah ajang bertemu para alumni pelatihan KAIL untuk saling berbagi cerita dan pengalaman hidup, dengan menggali kebutuhan apa saja yang perlu didukung oleh sesame teman dalam kelompok ataupun KAIL. Kegiatan ini dilakukan secara rutin 3 bulan sekali. 

Topik kali ini adalah membuat buku agenda 2012 dengan memanfaatkan dan memaksimalkan bahan/media yang ada dan menggunakan kreatifitas yang kita miliki. Sebelum membuat buku agenda, ada pemberian wawasan dari fasilitator Any Sulistyowati tentang bagaimana menyusun visi hidup dan visi pribadi, serta prioritas apa saja yang sebaiknya ada dalam buku agenda. Setelah itu, mulailah berkreasi dengan memanfaatkan majalah bekas yang ada dan menggunakan alat tulis seperti crayon, spidol, gunting, dll.

Waktu 3,5 jam ternyata tidak cukup untuk menyelesaikan proses pembuatan buku agenda. Ini juga membuka mata kita, bahwa tidak selamanya kita harus tergantung dengan teknologi modern yang ada. Dengan memanfaatkan barang bekas pun kita bisa menghasilkan karya yang menarik. Yang tak kalah penting, semua catatan dan agenda kita menjadi terjadwal dan tersusun dengan rapi dengan adanya buku agenda manual yang dibuat sendiri. Jadi tidak usah kawatir kalau ternyata listrik mati atau computer kita baterenya habis, kita masih bisa kok melihat agenda kegiatan melalui buku agenda tersebut. Semoga bermanfaat.  

(Melly)